Archive for July, 2005

INDONESIA SAJA

Thursday, July 28th, 2005

AKU BUKAN ORANG JAWA
AKU JUGA BUKAN SUNDA
AKU BUKAN ORANG ACEH
AKU JUGA BUKAN AMBON

AKU BUKAN CINA
AKU JUGA BUKAN ARAB
AKU BUKAN KIRI
AKU JUGA BUKAN KANAN
AKU BUKAN HIJAU
AKU JUGA BUKAN MERAH

REFF
AKU HANYA MERASA
AKU ORANG INDONESIA SAJA

REFF… REFF… REFF… REFF
————————————————————————————————-
sekarang ini memang aneh jika hanya dengan perjalanan 1-2 jam saja sudah harus mengalami keadaan yang berbeda, sejak jamannya pesawat komersial dan tingginya mobilitas manusia jaman sekarang. lucu sekalijika asimilasi budaya tidak terjadi hanyalah karena kebanggaan terhadap budaya pribadi yang BERLEBIHAN(rasisme dan narsisme). Ketika org datang ke kota besar, harapannya adalah ia tidak akan mengalami tekanan untuk mengikuti salah satu budaya yang berlaku, karena seharusnya kota besar adalah tempat org berbagai budaya lalu lalang dan SEHARUSNYA heterogen, jika tidak, mungkin alasan diatas yang dapat dikemukakan. Bhineka Tunggal Ika bukan untuk sebuah arena pertandingan, aku juga org INDONESIA SAJA mas Ahmad Dhani!

KALA HUJAN TURUN SORE

Tuesday, July 26th, 2005

… Begitulah katamu padaku sore itu saat kita sedang sama-sama menikmati secangkir teh hangat di beranda rumahku. secangkir teh yang menghangatkan saat sore itu hujan turun dengan derasnya…

Ya ampuunnnn cuplikan cerpen diatas bikin aku nyadar, sudah lama bangeet gak ngalami suasana dan keadaan seperti itu lagi. memang nikmat sekali rasanya ngobrol sama temen2 sore2 dan hujan turun dengan deras sambil ada teh/kopi panas yang bisa di seruput, obrolan serasa mengalir, ujung bibir serasa tertarik ke atas terus hehehe(kalo gw dingin kenapa elo yang panas)… badan terasa segar soalnya angin semilir terus menyapa, sepanjang mata memandang sawah2 yang terlihat. ah, kesenangan memang tidak perlu mahal… walau kadang di ‘belakang’ bikin kita ingin ke ‘depan’, tp saat di ‘depan’ mungkin kita akan melirik ‘belakang dan menyadari di ‘belakang’ tidak kalah indah. Ulhee Kareung I MISS U.

Subsidi

Friday, July 22nd, 2005

http://www.petitiononline.com/SubCash/petition.html

To:  Rakyat Indonesia
1. Hilangkan Subsidi BBM
2. Pajaki BBM (untuk biaya bikin jalan)
3. Bagi uangnya rata ke seluruh rakyat yang umurnya di atas 18 tahun.

Di dunia ini kita selalu ribut antara keunggulan kapitalism dan socialism. Udah jelas kapitalisme memaksimalkan productivitas secara keseluruhan. Akan tetapi memang kapitalism tidak bisa diandalkan mutlak untuk memastikan semua orang punya uang cukup untuk makan, boro boro modal uang.

Nah ini kabar gembira. Sebetulnya yang jadi masalah untuk orang orang productive itu bukan wealth redistribution, tapi market distortion. Jadi kalo kita meminimalkan market distortion, untuk proporsi wealth redistribution yang sama atau bahkan berkurang keuntungan orang miskin jauh meningkat.

Apa itu wealth redistribution? Itu distribusi dari orang kaya ke orang miskin. Misalnya si A Ming dan temennya Ahmad lapar. Lalu kita kasih dia duit Rp. 2 juta setaon. Kalo si A Ming dan Ahmad hemat, tinggal di desa, single, dan mau kerja keras, mereka nggak kelaperan dan bisa dagang.

Apa itu wealth distortion? Itu adalah berubahnya harga barang dari harga yang fair. Misalnya si A Beng melihat kalo harga se truck buah di kampung A lebih mahal Rp. 1000,000,00 dari kampung B. Misalnya dengan subsidi BBM buah itu bisa dipindahkan dengan biaya Rp. 800,000. Tentu saja si Abeng akan memindahkan buah tersebut. Kan lumayan untung nopek ceng sehari, daripada kagak?

Akan tetapi apakah yang A Beng lakukan? Meskipun harga BBM itu di Indo cuman Rp. 800,000 sebetulnya harga fairnya adalah Rp. 2,400,000.00. Jadi dalam ngedapetin Rp. 200.000,00nya si A Beng laba implicitnya gini:

Ongkos BBM 2,400,000.00
Pendapatan Laba jual buah Rp. 1,000,000,00
Rugi Rp. 1,400,000.00
Subsidi Rp. 1,600,000.00 (=Rp. 2,400,000-Rp. 800.000)

Dalam capitalism, untung dan rugi berdasarkan productivitas. Karena si A Beng memang tidak productive, wong ngabisin BBM seharga Rp. 2,400,000.00 buat dapetin laba Rp. 800.000 tentu si A Beng rugi Rp. 1,400,000.00

Tapi karena subsidi BBM sebesar Rp. 2,400,000.00-Rp. 800,000.00 si A Beng di subsidi ama pemerintah sebesar Rp. 1,600,000. Tentu saja subsidi ini cukup untuk membayar ketidak productivannya.

Wealth redistribution itu cincai. Begitu orang laper bisa makan dan punya modal yang layak buat kaya ya setop. Paling nggak lebih murah dari pada market distortion. Tapi market distortion itu nggak ada abis abisnya. Berapa banyak orang kaya yang jauh lebih kaya lagi dari si A Beng yang ngabisin duit negara Rp. 1,4 juta sehari.

Si A Beng juga kalo tau pemerintah mau kasih dia Rp. 1,4 juta sehari mak mending sekalian aja nggak usah nyupir truck bolak balik kampung malah duitnya lebih banyak. Nah kalo subsidi pemerintah datang dalam bentuk cash, misalnya, si A Beng tinggal bisnis yang lain, kali ini yang memang betul betul productive, ya Beng ya?

Dengan uang cash, otomatis kita punya intensive untuk menghemat BBM. Jumlah "subsidi" yang kita terima nggak lagi tergantung jumlah BBM yang kita konsumsi. Jadi kalo kita bisa hemat 1 liter BBM ya kita lebih kaya Rp. 8000 rupiah, dan bukan Rp. 2000 rupiah saja. Ini kan intensive kuat untuk hemat BBM. Kita juga nggak rugi, wong subsidinya sekarang dateng dalam bentuk cash. Orang biasa pake mobil bisa jemput jemputan ama temen sekantor. Mungkin kerja semaleman, nginep di kantor, pulang liburan panjang ama anak istri. Mobil yang boros bensin jadi nggak laku. Si A Beng bisa bisnis internet yang relative pake BBM lebih dikit.

Tapi si A Beng nggak bisa disalain. Lho, kamu sendiri udah tau BBM subsidi tetep aja beli di pom bensin. Si A Beng ya kayak kita kita juga semua yang naik mobil. Kita cuman ngeluh bilang ini nggak baik buat orang kecil tapi secara serakah kita dukung subsidi BBM. Subsidi BBM tidak saja tidak kapitalistik karena memberi laba yang tidak fair kepada pengusaha yang tidak productive, tapi juga mengurangi productivitas secara keseluruhan.

Ini juga nggak socialist dan manusiawi karena yang kaya konsumsi BBM lebih banyak, dan oleh karena itu dapet subsidi lebih banyak. Pabrik beroritentasi eksport pake BBM banyak. Si Petani cuman jalan kaki nggak pake BBM. Ini terjadi di mana banyak orang Indonesia nggak punya modal cukup buat dagang.

Wealth redistribution kalo cash susah di korupsi. Kalo misalnya saya kepala dinas pendidikan. Lalu uang negara 1 milyard buat 1000 murid. Lalu saya korupsi 100 juta. Lalu murid dapet pendidikan yang kurang memuaskan. Rakyat mana berasa? Definisi kurang memuaskan kan susah diukur. Orang sekolah juga ngajarnya pelajaran sampah yang nggak jadi duit. Tapi kalo negara di suruh kasih tiap murid sekolah Rp. 1 juta, lalu saya korup 100 juta, kan tiap orang dapetnya jadi cuman Rp. 900,000. Kan mereka tanya ini i pai chien thien nya kemana? Kan owe digebukin ama 2000 orang tua murid.

Process pembagiannya bisa dibagikan dilakukan oleh berbagai pihak swasta yang bersaing biar efficient. Paling ongkos pembagiannya kurang dari 2%. Jauh lebih efficien deh dari pada lewat pejabat dan dikorupsi.

Kita ini kayak si A Beng. Kita mengalokasikan resources kita ke bisnis yang tidak productive karena negara mendistorsi market. Hilangkan distorsi market. Pastikan kalo semua wealth redistribution dalam bentuk cash, termasuk BBM.

Itung punya itung, kalo subsidi BBM itu Rp. 300 milyard per hari dan jumlah rakyat indo yang sudah dewasa itu ada 100 juta, tiap orang bisa dapet Rp. 3000 rupiah per hari. Itu setaon bakal jadi Rp. 1 juta setaon. Emang sih nggak gede banget. Tapi buat orang desa ini kan sawah mereka bisa pake traktor. Yang BBM nya hemat bisa kaya.

Ayo, masak yang kaya makan duit lebih dari orang miskin. Malu oiii… Kita bikin duit pake cara yang productive aja ya?

Sincerely,

Brian Chang

————————————————————————————————

Setuju, walau untuk mengawalinya memang susah.

lagipula kenapa juga org yg mampu beli kendaraan bermotor dapat ‘uang saku’ dari pemerintah (karna menggunakan BBM). sedang pengemis pinggir jalan gak dapat ‘uang saku’ karena gak punya apa2. sooo kenapa gak beri jatah ‘uang saku’ kita ke mereka jika sempat? dan gak perlu merasa telah bersedekah setelahnya, karena kita cuma memberikan hak mereka…

meaningless words

Tuesday, July 19th, 2005

gateli, jancuk, mayak, mekitik… gak pernah ngerti artinya… definisinya juga gak jelas, ada yang mau membantu? gak pernah ada lagi yang bilang ke aku "anjing lu!" kangen juga, setidaknya kata itu definisinya jelas… (bahwa saya seperti anjing hehehe) poor language…

males bikin judul

Sunday, July 17th, 2005

apa yang terlihat bagus kadang belum tentu bagus,
apa yang terlihat jelek belum tentu jelek,
trus harus pake kacamata anti semu nih bos?!
yang jelas, dalam beberapa minggu terakhir ini, bosku memberikan obat anti naif…
tdk pernah terlalu percaya apa yang terlihat dimata, apa yang terdengar di kuping,
tapi kata bos hati kecil tidak pernah bohong…
hati kecil bisa merasakan maksud dari segala perbuatan, tidak terlena oleh kebaikan pamrih, tidak gusar oleh keburukan berhikmah…
tapi ngomong2… hati kecil itu apaan sih?
lagi pula bosku yang mana nih???!!!!###
oya, kata bos gak perlu servis tinggi buat dapet temen sejati
tapi juga gak perlu bikin resek buat dapet musuh sejati.
nah looo?! o o o siapa dia? satu nada tolong (kuis TVRI jaman dulu buat yg tdk berada dijamannya)

if it’s become bad influence

Sunday, July 10th, 2005

kadang ketika seseorang melalui perjalanan hidupnya, mengalami perubahan persepsi, sesuatu tidak keliatan sama lagi, apa yang dulu tidak cocok buatmu sekarang menjadi cocok, yang dulu cocok tidak menjadi cocok. lepas dari itu baik atau buruk terkadang kita perlu mengikuti hasrat diri sendiri untuk mencari sesuatu yang cocok untuk kita, untuk kemudian mengalami hal2 yang berbeda karena perubahan itu dan kemudian menyadari dan BERKEMBANG DALAM MEMAHAMI DIRI SENDIRI. jadi kenapa takut buat berubah… hanya karena ingin cocok dengan semua hal di dunia ini lalu mengorbankan karakter diri?