Archive for December, 2005

jika kau ingin baik, kau harus kaya

Friday, December 23rd, 2005

Song By: Resa

Jika Kau Ingin Baik, Kau Harus Kaya

Jika kau orang kaya kau bisa baik

JIka kau orang miskin kau tak bisa baik

Jika kau ingin baik kau mesti berduit

Jika kau tak berduit, kau tak bisa baik

Itu ORANG BRENGSEK bilang…

yang menjual kebaikan, terlalu MAHAL

hingga orang tak beruang tak bisa menjadi baik…

Orang seperti itu kau anggap penyelamatmu

Sedangkan Nabi tak menjual agamanya

jikalau Nabi menjual agamanya, hanya orang beruang yang masuk surga!

_________________________________________________________________________

Jika suatu nilai2 kebaikan yang diajarkan dijual mahal, terus yang gak punya uang gak bisa jadi orang baik ya? trus dimana moral pengajar nilai2 kebaikan itu?

masak kalah ama pekerja2 sosial, yang sebagian menolak publikasi berlebih dan keuntungan berlebih? atau guru2 yang goblok(apapun yang diajarkannya asal positif), karena tetep mengajar biarpun blum dapet bayaran, hanya karena mengharap ridhaNya

beberapa waktu yang lalu saya ingin mencoba ikut acara ‘peningkatan kepribadian ini’ jenis ini, tapi tiba2 gak tau kenapa saya ngerasa malu kalau harus manambah kecepatan perputaran lingkaran setan di kehidupan ini…

Tapi tetap saja semua orang punya pilihan, dan tetap saja pilihan saya mungkin tak lebih baik dari pilihan anda.

Cocaine by Eric Clapton

Monday, December 19th, 2005

This was written and originally recorded by Oklahoma blues guitarist J.J. Cale. Clapton recorded his version a year after Cale’s was released. Clapton has recorded several songs written by Cale, including "After Midnight" and "Travelin’ Light

This is a very famous song, but it was NEVER RELEASED AS A SINGLE.

Cale’s version was a B-side. He recorded it in a Jazz style before giving it a Rock arrangement.

In 1988, Elton John and Mark Knopfler joined Clapton on stage to perform this at the 6th annual Prince’s Trust Rock Gala. Proceeds from the show went to charity.

bukan untuk bergaya kata melainkan hanya untuk berbagi faham…

Monday, December 12th, 2005

Jangan keburu mengira aku sedang bermain kata2…

kamu tidak perlu melayani jika memang kamu belum mengerti

jangan malu untuk tanya padaku, apa maksudku sebenarnya, maka aku akan sadar bahwa cara bicaraku belum benar, begitupun sebaliknya diriku…

bukan karena bodoh, bukan karena gak gaul(watta fuckin’ word, but i use it anyway sometime)…

bukan karena tidak peka, hanya karena sepasang manusia yang berbicara kadang tidak berjalan di sisi pemahaman yang sama…

begitu kamu melayani kata2 yang kamu belum mengerti

lalu membalasnya dengan kata2 yang kamu harap aku tidak mengerti (untuk memberi perasaan yang sama)

lalu apa jadinya obrolan kita…?

bukan untuk keren2an menggunakan kata yang mungkin orang lain belum mengerti

bukan karena lebih pandai, bukan karena ingin keliatan berbeda, hanya saja itu mungkin itu caraku berbicara(aku tidak membawa tape recorder kemana2 untuk mereview ulang sebuah obrolan), yang hadir dari caraku berpikir, seperti juga setiap manusia yang punya kalbu yang berbeda. Seperti sidik jari manusia yang tidak pernah sama, seperti motif salju yang mungkin tidak pernah sama, seperti planet2 di tata surya kita yang tidak pernah berpikir untuk mengelilingi matahari dengan kecepatan yang sama.

jika kamu menganggap aku memulai ‘perlombaan’, lalu saling mengucapkan kata2 yang gunanya untuk membuat lawan bicara keliatan bego…

maka lebih baik kita duduk dipersimpangan jalan sambil mengupas kacang bersama, sambil mengamati setiap kendaraan yang lewat tanpa berbicara sedikitpun…

itu bakal membuat kita keliatan JAUH LEBIH BEGO. Tanpa kita harus sedikitpun mengeluarkan energi berbicara…

Kerja Keras (Getu) di Band

Saturday, December 3rd, 2005

Dari http://www.rollingstone.com/news/story/_/id/8798649/pharrellwilliams?pageid=rs.News&pageregion=single3&rnd=1133668810703&has-player=false

Your first royalty check was probably for writing "Rumpshaker" for Wreckx-N-Effect.

Yeah.

For how much? And what’d you blow it on?

It was for about ten or fifteen grand. Polo. I was a Ralph Lauren fan.

As far as the people you’ve recorded with, who works the hardest in the studio?

The ones who are really successful work really hard. Beyonce works hard. I appreciate that. Justin, Usher and Jay-Z work hard. They’re not in the studio to fuck around. We all have fun, but when it’s time for us to put our Jedi hats on, we put our Jedi hats on and battle it out with the creativity that exists in oblivion. We reach in and snatch it out and carve away until it’s right.

=========================================================================

Liat teman… yang benar2 sukses adalah yang kerja keras…

dalam perjalanan menuju kedewasaan sudah saatnya mulai berpikir kalo orang tua kita takkan membantu kita selamanya… harus mulai membiasakan diri kerja keras untuk mendapatkan sesuatu. Dan memang kerja keras tidak selalu menyenangkan. jika kegiatan itu selalu menyenangkan mungkin itu bukan kerja keras… hanya… bersenang2 yang lama.

dan kerja keras bukan hanya tentang meningkatkan skill permainan musik, tapi semua tentang usaha dalam bermusik.

Dulu tanpa sadar Sunrise On Sunday rutin berlatih tiap hari minggu selama setahun… dan sekarang kita punya kesempatan… lalu kenapa harus skeptis? karena kerja keras (getu) adalah faktor nomor 1 diatas yang lain2nya, dan kita punya itu. lalu… sekali lagi,kenapa harus skeptis? sikap positif maupun negatif adalah seperti virus penyakit, akan menyebar ke sekitar kita. Yang mana yang mau kita sebar untuk lingkungan kita sendiri?

don’t just sitting around waiting for a chance, make your chance.

jangan berharap keajaiban datang hanya karena bermain bagus dan punya lagu…

Aceh dan Indonesia

Saturday, December 3rd, 2005

Aceh Tengah setidaknya mempunyai 20 obyek wisata. Tapi, sama dengan nasib Danau Air Laut Tawar, rata-rata obyek wisata itu terbengkalai. Sepinya wisatawan tidak mendorong pemerintah kabupaten untuk memelihara obyeknya.

Tidak hanya obyek wisata alam yang terbengkalai, obyek wisata sejarah pun telantar. Salah satu contoh adalah Monumen Radio Rimba Raya (RRR) yang merupakan wisata sejarah mengenang keberhasilan merebut kemerdekaan dengan siaran radio.

Monumen RRR di Desa Rimba Raya, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Aceh Tengah, itu kini semakin kesepian di tengah rimba. Selain ditumbuhi ilalang dan bangunannya retak-retak, fasilitas penunjang seperti taman dan kolam kini sudah tidak ada bekasnya lagi.

Lubang menganga dan retak-retak kini terlihat di bangunan dasar yang mengitari tugu antena. Warga di sekitar monumen mengatakan, sejak tahun 1997 monumen itu tidak pernah dipelihara. "Kami sebenarnya baru saja kerja bakti membersihkan rumput. Sebelum dibersihkan, monumen ini sudah tidak kelihatan," kata Usman, warga setempat.

RRR merupakan siaran radio yang berhasil menyelamatkan Indonesia saat-saat berada diambang kritis ketika ibu kota indonesia di Yogyakarta berhasil direbut Belanda, 19 Desember 1948. Saat itu, RRI yang biasa menyiarkan kemerdekaan Indonesia juga berhasil dikuasai Belanda.

Radio Belanda Hilversum saat itu menyiarkan berita bahwa Indonesia sudah hancur. Pada saat genting itu, tanggal 20 Desember RRR mengudara dari rimba belantara untuk menyatakan bahwa Indonesia masih ada.

Untuk mengumandangkan siaran RRR, tentara Indonesia dari Divisi Gajah X harus berjuang mati-matian dan bergerilya setiap saat menghindari deteksi musuh. Monumen yang terlihat sekarang dibangun tahun 1990, diresmikan Bustanul Arifin yang saat itu menjabat Menteri Koperasi.

Rahmat, warga Rimba Raya, mengatakan, dirinya pernah mengajukan diri ke Pemkab Aceh Tengah untuk memelihara monumen. "Saya sudah mengajukan permohonan, semacam surat lamaran untuk bisa menjadi penjaga monumen ini, tetapi ditolak," katanya.

Selain monumen yang terbengkalai, sebuah truk tua yang dulu digunakan untuk mengangkut salah satu peralatan RRR, kini menjadi besi tua. Truk milik penduduk itu kini berada di rumah salah satu warga Kabupaten Bireuen.

Warga sekitar maupun warga Aceh Tengah pada umumnya tidak habis pikir mengapa pemerintah menelantarkan bukti sejarah penting tersebut. Jejak sejarah partisipasi Aceh dalam kemerdekaan Indonesia itu kini berangsur pudar.

=========================================================================

Aku baru tahu… kalo ada monumen RRI yang menyimpan salah satu sejarah penting perjuangan kemerdekaan indonesia. aku merasa gak pernah membaca ini di buku sejarah waktu sekolah (atau saya ketiduran waktu itu? apa ada yang mau meminjamkan buku sejarah jaman sekolah?), kenapa?

Pemerintah indonesia selalu mengklaim Aceh untuk menjadi daerah isimewa yang katanya karena budaya dan agamanya. tapi disamping itu menurut saya ada beberapa alasan lain yang mungkin sama dengan Yogyakarta.

Pesawat yang nangkring di depan sekolah saya waktu SMU di Banda Aceh dulu juga salah satu monumen bersejarah yang saya merasa tidak pernah belajar itu di sejarah sekolah, saya malah bacanya di majalah tentang perusahaan pesawat GARUDA, belakangan baru saya tahu kalo itu pesawat hasil sumbangan rakyat Aceh untuk bung Karno dalam menjalankan perjuangannya(lalu sempat dipake beberapa saat oleh GARUDA untuk pesawat komersil, setelah pesawat itu ‘pensiun" GARUDA mengembalikan pesawat itu kembali ke rakyat Aceh, jadilah monumen pesawat Blang Padang), pesawat itu hasil dari kumpulan emas2 yang di kumpulkan di suatu tempat(lapangan blang padang?) oleh warga aceh (orang aceh suka menyimpan harta dalam bentuk emas pada jaman dahulu kala).

ah siapa bilang aceh tidak cinta indonesia…

lalu… kenapa sejarah2 penuh makna tersebut diatas seakan bersembunyi malu2…??

kadang2 sejarah dan media pun bisa pilih kasih…

ada seorang bapak pernah bilang ke saya "kalo kamu mau tau tentang sejarah indonesia yang lebih bebas dari kepentingan2 lokal, baca buku yang sumbernya dari luar negeri". ironis…