Aceh Tengah setidaknya mempunyai 20 obyek wisata. Tapi, sama dengan nasib Danau Air Laut Tawar, rata-rata obyek wisata itu terbengkalai. Sepinya wisatawan tidak mendorong pemerintah kabupaten untuk memelihara obyeknya.
Tidak hanya obyek wisata alam yang terbengkalai, obyek wisata sejarah pun telantar. Salah satu contoh adalah Monumen Radio Rimba Raya (RRR) yang merupakan wisata sejarah mengenang keberhasilan merebut kemerdekaan dengan siaran radio.
Monumen RRR di Desa Rimba Raya, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Aceh Tengah, itu kini semakin kesepian di tengah rimba. Selain ditumbuhi ilalang dan bangunannya retak-retak, fasilitas penunjang seperti taman dan kolam kini sudah tidak ada bekasnya lagi.
Lubang menganga dan retak-retak kini terlihat di bangunan dasar yang mengitari tugu antena. Warga di sekitar monumen mengatakan, sejak tahun 1997 monumen itu tidak pernah dipelihara. "Kami sebenarnya baru saja kerja bakti membersihkan rumput. Sebelum dibersihkan, monumen ini sudah tidak kelihatan," kata Usman, warga setempat.
RRR merupakan siaran radio yang berhasil menyelamatkan Indonesia saat-saat berada diambang kritis ketika ibu kota indonesia di Yogyakarta berhasil direbut Belanda, 19 Desember 1948. Saat itu, RRI yang biasa menyiarkan kemerdekaan Indonesia juga berhasil dikuasai Belanda.
Radio Belanda Hilversum saat itu menyiarkan berita bahwa Indonesia sudah hancur. Pada saat genting itu, tanggal 20 Desember RRR mengudara dari rimba belantara untuk menyatakan bahwa Indonesia masih ada.
Untuk mengumandangkan siaran RRR, tentara Indonesia dari Divisi Gajah X harus berjuang mati-matian dan bergerilya setiap saat menghindari deteksi musuh. Monumen yang terlihat sekarang dibangun tahun 1990, diresmikan Bustanul Arifin yang saat itu menjabat Menteri Koperasi.
Rahmat, warga Rimba Raya, mengatakan, dirinya pernah mengajukan diri ke Pemkab Aceh Tengah untuk memelihara monumen. "Saya sudah mengajukan permohonan, semacam surat lamaran untuk bisa menjadi penjaga monumen ini, tetapi ditolak," katanya.
Selain monumen yang terbengkalai, sebuah truk tua yang dulu digunakan untuk mengangkut salah satu peralatan RRR, kini menjadi besi tua. Truk milik penduduk itu kini berada di rumah salah satu warga Kabupaten Bireuen.
Warga sekitar maupun warga Aceh Tengah pada umumnya tidak habis pikir mengapa pemerintah menelantarkan bukti sejarah penting tersebut. Jejak sejarah partisipasi Aceh dalam kemerdekaan Indonesia itu kini berangsur pudar.
=========================================================================
Aku baru tahu… kalo ada monumen RRI yang menyimpan salah satu sejarah penting perjuangan kemerdekaan indonesia. aku merasa gak pernah membaca ini di buku sejarah waktu sekolah (atau saya ketiduran waktu itu? apa ada yang mau meminjamkan buku sejarah jaman sekolah?), kenapa?
Pemerintah indonesia selalu mengklaim Aceh untuk menjadi daerah isimewa yang katanya karena budaya dan agamanya. tapi disamping itu menurut saya ada beberapa alasan lain yang mungkin sama dengan Yogyakarta.
Pesawat yang nangkring di depan sekolah saya waktu SMU di Banda Aceh dulu juga salah satu monumen bersejarah yang saya merasa tidak pernah belajar itu di sejarah sekolah, saya malah bacanya di majalah tentang perusahaan pesawat GARUDA, belakangan baru saya tahu kalo itu pesawat hasil sumbangan rakyat Aceh untuk bung Karno dalam menjalankan perjuangannya(lalu sempat dipake beberapa saat oleh GARUDA untuk pesawat komersil, setelah pesawat itu ‘pensiun" GARUDA mengembalikan pesawat itu kembali ke rakyat Aceh, jadilah monumen pesawat Blang Padang), pesawat itu hasil dari kumpulan emas2 yang di kumpulkan di suatu tempat(lapangan blang padang?) oleh warga aceh (orang aceh suka menyimpan harta dalam bentuk emas pada jaman dahulu kala).
ah siapa bilang aceh tidak cinta indonesia…
lalu… kenapa sejarah2 penuh makna tersebut diatas seakan bersembunyi malu2…??
kadang2 sejarah dan media pun bisa pilih kasih…
ada seorang bapak pernah bilang ke saya "kalo kamu mau tau tentang sejarah indonesia yang lebih bebas dari kepentingan2 lokal, baca buku yang sumbernya dari luar negeri". ironis…