Kadang, ia hanya ingin sama dengan yang lainnya,
Beberapa saat, mungkin menarik untuk menjadi berbeda.
Lalu setelah sekian lama, maka akan mulai mengganggu,
Ia akan mulai menyadari kalau ada yang ia tidak bisa dapatkan hanya karena menjadi berbeda…
Kadang ia berkhayal orang lain akan memaklumi perbedaan dirinya… namun pada suatu saat ia menyadari itu hanya khayalan.
Penampilan yang sama, fisik yang sama, bahasa yang sama, logat yang sama.
Memang itu semua tidak dapat dipungkiri bisa menghadirkan rasa dekat.
Pernahkah kamu jalan dikeramaian dan melihat seseorang yang penampilannya begitu cakep/jelek sehingga menarik perhatian sekelilingnya?
Atau orang yang fisiknya begitu sempurna ataupun orang cacat yang menarik perhatian orang (tapi semua orang berusaha menyembunyikan perhatiannya akan kecacatan orang lain untuk alasan kemanusiaan). Ataupun telingamu tertarik dengan bahasa yang tidak pernah kamu dengar, ataupun logat yang aneh?
Kamu mungkin tertarik tapi kamu mungkin akan susah untuk merasa familiar/akrab. Karena segala hal yang kita tidak familiar, jarang disekitar kita, membutuhkan jalan yang lebih panjang untuk sampai ke otak kita.
Pernahkan kamu diambang batas kesadaran. Seperti baru bangun tidur, atau kelelahan, atau banyak pikiran, pokoknya sesuatu yang meembuatmu malas/tidak bisa untuk berkonsentrasi. Dengarkanlah suara2 dalam kepalamu pada saat2 seperti itu… dalam bahasa apakah itu? Dengan nada/logat bagaimanakah itu? Musik apa yang menjadi backgroundnya? Atau bayangan2 di dalam kepalamua? Seperti apakah bentuknya? Seperti apakah orang2nya…
ITULAH KAMU SEBENAR BENARNYA KAMU! Itulah apa yang sampai ke otakmu dengan cepat… itulah sebenarnya hal2 yang membuat kamu nyaman kalo kamu berkecimpung dengan itu… hal2 yang lebih ringan untuk kamu hadapi setiap harinya… lebih sedikit membuat kamu lelah.
Kamu tidak bisa menipu dirimu sendiri. Karena itu semua terbentuk pada saat usia sekolahmu.
Itupun yang ia rasakan.
Ia menyadari tidak ada gunanya berusaha bisa seperti orang lain.
Tidak ada gunanya pura2 nyaman dengan orang yang berbeda dengan dirinya.
Dan ia akhirnya bisa menjawab…
Dimanakah kampung halamannya?
Yaitu dimana ia masih sekolah. Bukan kampung halaman ayah ibunya
Orang suku apakah ia?
Yaitu suku orang dimana ia bersama dalam usia sekolah. Bukan suku ayah ibunya
Apa bahasa ibunya?
Yaitu bahasa yang didengar dalam kepalanya. Yang dapat langsung dipahaminya meskipun dalam keadaan setengah sadar. Bahasa yang punya arti saat dia dalam keadaan setengah sadar bukan seperti suara2 yang tidak dapat dipahaminya kecuali ia berkonsentrasi. Dan lagi, bukan bahasa ibu kedua orang tuanya.
Kemana ia bercita2 menghabis masa tuanya?
Yaitu tempat yang selalu terkenang olehnya semenjak lepas masa sekolah. Bukan tempat impian kedua orang tuanya.
Dan iapun menyadari mengapa terkadang ia susah merasa dekat dengan lingkungannya, karena itu bukan lingkungan yang berada di alam bawah sadarnya.
Bukan lingkungan familiarnya.
Jika beberapa orang ‘menolak’ untuk dekat dengannya, ia pun maklum, karena mungkin orang itu pun seperti ia, ingin mencari sesuatu yang tidak membuatnya lelah, karena jalan yang lebih panjang menuju otak, karena sesuatu yang tidak familiar, orang itu ingin relaksasi
mendengar musik yang biasa teringang didalam kepalanya
mendengar bahasa yang biasa terngiang dalam kepalanya
bersama orang yang sering terbayang dalam kepalanya.
Karena iapun sebenarnya seperti itu.
Ia selalu bertanya2 dalam hatinya:
Karena ia lelah menterjemahkan segala sesuatu setiap harinya
Karena ia benci dengan suara2 yang tidak ia mengerti artinya kecuali ia benar2 dalam keadaan sadar.
“Ya Tuhan, kapan saya pulang?”