Archive for February, 2006

Meluruskan Bahasa

Tuesday, February 14th, 2006

Lama juga yah gak mengupdate blog ini. oke, sesuai post terakhir kali maka sekarang mbahaaaassss. …Sensitive.

Sensitive adalah:

_________________________________________________________________________

Penggunaan bahasa itu sangat penting, jadi jangan dianggap remeh dan sepele.
Sudah menjadi bukti, beberapa konflik di tanah air maupun terjadi di luar negeri adalah karena disebabkan ‘bahasa’, seorang perdana menteri di timur tengah pernah mengeluarkan ‘kata-kata’ yg menyinggung negara tetangganya sehingga menyebabkan perang sampe sekarang belum selesai juga.

Sewaktu Nabi Khong Hu Tju masih hidup, beliau pernah ditanya, apabila jadi pemimpin negara, apa yang pertama kali akan ia lakukan?
Beliau menjawab: ‘Saya akan meluruskan bahasa’. Jadi saat aman itupun beliau sudah menyadari pentingnya bahasa, yang mana kalau salah penggunaan bisa memicu terjadinya kekacauan bahkan perang.
Jadi sesuai pepatah "Bahasa menunjukkan (kualitas) bangsa", bahasa juga akan menunjukkan siapakah anda.

Suatu hari Confucius ditanya oleh seseorang, “Apakah yang pertama anda lakukan ketika anda harus mengurus negara?” “Tentulah meluruskan bahasa” jawab Confucius. Orang itu tercengang, kehairanan, lalu melontarkan soalan susulan, “Mengapa?” “Jika bahasa tidak lurus,” jawab Confucius, “apa yang dikatakan bukanlah apa yang dimaksudkan, apa yang seharusnya dilakukan tetaplah tidak dilakukan. Jika tidak dilakukan moral dan seni akan merosot; dan jika moral dan seni merosot, keadilan pun tidak akan jelas arahnya.

Ketika terjadi serangan 9/11 2001, CNN dalam pemberitaannya menggunakan banner "America under Attack". Ketika menyerang Afghanistan, CNN menggunakan banner "War on Terrorism". Betapa tidak adilnya. Mengapa tidak "America Attacks Back",atau "Afghanistan under Attack too"? Silahkan ditarik kesimpulan sendiri…

Bahasa memang sangat penting, dalam scope orang kecil ya dampaknya hanya ke orang dekat jika kita salah ‘ngomong’, tp makin tinggi kedudukan ‘yg salah omong’ itu makin besar pula dampaknya.

Bahasa yg keras malah sering muncul dari orang-orang dekat kita … tak salahnya kita memulai bahasa yg lembut … yang dapat diterima semua orang, pada kerabat ataupun orang asing … pada dasarnya kita sendiri juga suka pada bahasa yg lembut … cuman kadang kita enggan melakukan …. (gengsi kali ya)

Kembali ke masalah sensitive, kenapa tidak kita kembalikan kata itu ke arti yang sebenarnya? berhenti menggunakan itu sebagai pengganti "mudah tersinggung". karena 2 kata itu punya makna yang berbeda. jika kita punya kemampuan untuk berbahasa lebih baik? kenapa tidak kita melakukannya? jangan sampe suatu hari nanti kita memerlukan pertemuan besar2an. Untuk menyamakan makna kata2, karena orang mulai seenaknya menggunakan kata2 yang gak sesuai.

Dan semoga kita dapat saling menegur dalam kedamaian tanpa rasa tersinggung, dan tanpa rasa ingin men’jatuh’kan orang yang kita tegur, dan me’ninggi’kan diri sendiri. Amin

Wassalam,

Semoga memberi manfaat bagi saya dan yang membaca.

Resa