Archive for April, 2006

Dia

Thursday, April 27th, 2006

Dia mungkin hidup untuk ‘menyerang’, sering menemukan kesempatan untuk menyindir. Sebenarnya kasihan juga sih, karena biasanya, itu tandanya hatinya sering GELISAH… i’ve been there. Ini bukan untuk menilainya, hanya semoga bisa menjadi motivasinya, seperti juga org lain memotivasiku.

Why the English Language Is Hard to Learn

Wednesday, April 26th, 2006
  • The bandage was wound around the wound.
  • The farm was used to produce produce.
  • The dump was so full that it had to refuse more refuse.
  • We must polish the Polish furniture.
  • He could lead if he would get the lead out.
  • The soldier decided to desert his dessert in the desert.
  • Since there is no time like the present, he thought it was time to present the present.
  • A bass was painted on the head of the bass drum.
  • When shot at, the dove dove into the bushes.
  • I did not object to the object.
  • The insurance was invalid for the invalid.
  • There was a row among the oarsmen about how to row.
  • They were too close to the door to close it.
  • The buck does strange things when the does are present.
  • A seamstress and a sewer fell down into a sewer line.
  • To help with planting, the farmer taught his sow to sow.
  • The wind was too strong for us to wind the sail.
  • After a number of injections my jaw got number.
  • Upon seeing the tear in the painting I shed a tear.
  • I had to subject the subject to a series of tests.
  • How can I intimate this to my most intimate friend?

Let’s face it - English is a crazy language. There is no egg in eggplant nor ham in hamburger; neither apple nor pine in pineapple. English muffins weren’t invented in England or French fries in France. Sweetmeats are candies while sweetbreads, which aren’t sweet, are meat.

We take English for granted. But if we explore its paradoxes, we find that quicksand can work slowly:

  • Boxing rings are square and a guinea pig is neither from Guinea nor is it a pig. And why is it that writers write but fingers don’t fing, grocers don’t groce and hammers don’t ham?
  • If the plural of tooth is teeth, why isn’t the plural of booth beeth? One goose, 2 geese. So one moose, 2 meese? One index, 2 indices?
  • If you have a bunch of odds and ends and get rid of either one of them, what do you call it?
  • If teachers taught, why didn’t preachers praught? If a vegetarian eats vegetables, what does a humanitarian eat?
  • By the way, how can a slim chance and a fat chance be the same, while a wise man and a wise guy are opposites? How can overlook and oversee be opposites, while quite a lot and quite a few are alike?
  • How can the weather be hot as hell one day and cold as hell another?
  • And where are all those people who ARE spring chickens or who would ACTUALLY hurt a fly? Where did the beauty who was OUT OF THIS WORLD go?
  • You have to marvel at the unique lunacy of a language in which your house can burn up as it burns down, in which you fill in a form by filling it out, and in which an alarm goes off by going on.
  • English was invented by people, not computers, and it reflects the creativity of the human race (which, of course, isn’t a race at all). That is why, when the stars are out, they are visible. However, when the lights are out, they are invisible.
  • Why, when I wind up my watch, I start it, but when I wind up this essay, I end it?

Confusion, thy name is English!

Surat curhat

Tuesday, April 25th, 2006

Dari kompas media cyber

Pengalaman pahit di negeri orang ("Wulan" di Eropa)

Saya ingin menyampaikan pengalaman semasa hidup di negeri orang, saya tinggal di negeri ini hampir 2 tahun. Saya tinggal di eropa karena perkawinan dg orang eropa. Tidak lama setelah saya menikah alhamdulillah kita langsung tinggal di sini. Pertama kali disini, saya liat wah ada orang Indonesia ketemu di toko Asian, rasanya senang dan kita saling tukar alamat, juga ada perkumpulan orang-2 indonesia di acara keagamaan. Masih tukar menukar alamat lagi. Karena kangen juga untuk berbahasa indonesia. Tetapi setelah begitu lama untuk punya bbrp teman orang Indonesia, malah saya pusing dibuatnya. Ada yg hanya membicarakan materi, dari produk dan merk yg dibeli serta komplet harga-2nya. Dan ada rasa bangga untuk memberitahukannya. Biasanya suka dia nelpon kemudian tiba-2 cerita kalo baru membeli produk A dg harga sekian. Dan selalu bertanya aku yg saya punya merek apa. Saya seperti diperdaya karena saya orang baru waktu itu, kemudian ada acara ulangtahun, memang adat sini diberi tau apa saja yg diinginkan. Tapi in lebih aneh: dg diberikan listingnya komplet di mana saya belinya dan sekalian harganya di atas 10 euro-an, di atas 100 rb (yg katanya adalah murah), mengingat anaknya masih kecil 5 tahun. Seperti biasa keluarga suami juga kalo anaknya ultah selalu memberi listing juga tapi wajar itu kan famili.

Kemudian, satu demi satu teman orang Indonesia, mulai tampak belangnya. Ada yg main merintah seenaknya tanpa sungkan-sungkan dari yg nitip anak, nitip belanjaan yg gak tanggung-tanggung daging(emang ada kuli yg bisa ngangkut?) dll. Pertama-tama saya mau melakukannya krn th pertama saya tinggal disini. Tapi kemudian saya bisa menolak pelan-2, bagaimana pintarnya kita untuk menge-les atau kita tegas aja bilang gak bisa dan tidak mau, itu kalo gak sungkan, lebih tipe-barat, yes or no!! Pelan-pelan juga kita harus belajar untuk bisa menolak tidak. Demikian juga kalo waktu summer pulang kampung ke indonesia, ada juga teman yg nitip barang, tapi saya bilang enggak bisa, bagaimana kita untuk menge-les saja. Yg penting enggak merepotkan kita dan hidup bisa enjoy.

Dulu saya berpikir ada kegiatan arisan wah sepertinya menyenangkan kalo kita bisa ngumpul. Tapi malah menimbulkan masalah baru. Dan teman-2 saya indonesia ini lebih senang kalo kita bergantung dan merasa dibutuhkan, jadi dia akan gampang dimanfaatkan olehnya.
Sekarang alhamdulillah, satu demi satu teman saya tulis di map . Apa positifnya dan apa negatifnya, saya hitung ternyata banyak negatinya saya buang nama itu. Dan yg banyak positifnya saya masih jalin pertemanan saya, tapi dengan catatan kita mesti ada batasan, tidak deket sekali tidak juga jauh biasa saja. Karena bagaimanapun di negeri orang kita tidak bisa bergantung dengan teman, susah, sedih, sakit hanya diri kita yg menolong, kekuatan kita dan Tuhan. Jadi rasa trauma saya, kesal batin saya dengan kelakuan teman-2 saya sebangsa sendiri yg tega memanfaatkan teman bangsa sendiri. Dan saya kuatkan kembali batin saya, tidak takut kalo tidak punya teman banyak ato tidak punya teman sama sekali(kasarnya). Tapi alhamdulillah ada kegiatan lain yg bisa mengisi hari hari saya di negeri ini, membaca, menulis, menonton, shopping, main internet, memasak, mengatur rumah, mengunjungi orang tua-panti. Diisi dg kegiatan lain, jadi merasa hidup saya disini lebih berati daripada saya menelpon/ditelpon sana sini dg menggosip tak jelas, nggak dapat keuntungan apa-2, hanya capek, kecewa dan menderita batin saya.

Dua tahun sudah saya merasakan bagaimana suka duka saya memilih teman, menjajaki dengan mereka. Mungkin kita bisa berbagi disini, jadi sebaiknya kalo ada teman sesama bangsa ketemu di jalan ato di tempat lain, sebaiknya keep your identity(telefon nomor) dulu, jangan keburu-2 memberikan identitas diri, diam, jajaki lawan kita(kasarnya) mau kemana nih omongan-nya, kalo sekiranya ada yg nyleneh, pelan-2 kita mundur. Jangan paksakan untuk diteruskan karena akan menjadi bomerang dalam diri kita, kasian batin kita nanti. Jangan takut kalo tidak mempunyai teman banyak atao tidak berteman sama sekali kalo kenyataannya mereka merugikan hidup kita. Pelan-2 juga ketemu akhirnya, sambil mengisi hari-2 kita, banyak kegiatan lain yg kita bisa kerjakan sendiri dan menyenangkan. Jangan deket-dekat dulu sebelum tahu mereka detailnya, selektif lah. Baru kalo sama-2 fair kita bisa maju bersama. Walaupun itu ada sebangsa dg kita, buka diri dg teman dari kultur lain siapa tau mereka lebih baik, lebih fair, dan sekalian belajar kultur lain. Kita harus tegas bertindak, tidak ragu-ragu ato sungkan, katakanlah walaupun itu pahit.

Alhamdulillah saya ada teman dari Indonesia disini yg bisa support, yg saya anggap sebagai kakak, dan bisa memberikan ketentraman spiritual, tidak cerita merek-2an ato merintah seenaknya sendiri, dan juga ada saudara-saudara dan teman-teman yg notabene orang bule dari suami saya yg enak diajak curhat, walaupun beda kultur tapi rasanya hati nyaman. Alhamdulillah terimakasih ya Allah kau berikan kembali hidup saya lebih berarti dari hari kemarin…Sekian pengalaman negatif saya di negeri orang. Mudah-2an berguna bagi teman-teman kita di negeri orang.

————————————————————————————————

Dari Kuwait

Saya sekarang tinggal di kuwait, dan bekerja sebagi pegawai pemerintah. Saya sudah bekerja di sisni selama kurang lebih 2 tahun.

Membaca dan menyimak pengalaman temen2 yang hidup di luar negeri (bukan timur tengah) rasanya berbeda sekali dengan apa yang dialami oleh kita2 (yang notabene pegawai pemerintah). Kami hidup sepenuhnya dijamin mulai dari perumahan, makan, seragam bahkan transport untuk bepergian seminggu sekali. Itu bagi kita2 yang singgle atau tidak ada keluarga. Saya sendiri tinggal di akomodasi perumahan buat para singel. So.. seutuhnya menikmati fasilitas mulai dari telepon (internet bayar kartu sendiri), makan dan sebagainya. Yang terpenting juga fasilitas keamaanan dan kesehatan.

Tapi bagi mereka yang berkeluarga, mereka harus menyewa flat dan harganya menusuk jantung. HArga flat 2 kamar dengan satu kamar kecil untuk pembantu berkisar antara 1/3 - 1/2 dari gaji kita. Beruntung buat mereka yang suami istri bekerja karena minimal mereka bisa menyisihkan tabungan untuk keluarga dan pendidikan anak yang juga tidak gratis. Pendidikan juga sangat mahal di kuwait. Dan itu berlaku hanya untuk non kuwaity (Non Warga negara kuwait). Buat kuwaity, semua gratis.. bahkan ada tunjangan buat mereka yang mau sekolah( kebanyakan generasi mereka malas sekolah). Waah… pokoknya mereka menjadi raja di negara sendiri. Semua pendatang (yang memang bekerja) bener2 dianggap pelayan oleh kuwaities ini. (Untuk cerita soal perilaku mereka… tunggu cerita selanjutnya aja ya… pokoknya seru…).

Kembali ke maslah pendidikan anak. YAng selama ini dialami oleh temen2 ini di negeri Eropa, amerika dan australia sangat berbeda dengan kita2 disini. Sekolah untuk non kuwaity (rata2 orang indonesia memasukkan anaknya ke pakistany school, Inida or philiphinn school ). Gak ada Indonisia school di kuwait. Dan mau tau biayanya?… Pokoknya.. sya sendiri tidak ada rencana untuk menyekolahkan anak di kuwait.. Terbayar oleh kita pegawai pemerintah. Tapi itu merogoh saku kita cukup dalam. Ada sekolahan Amerika dan British juga. TApi… muahalnya… reeek…<BR>&nbsp;<BR>Terus masalah peluang karir. Sangat berbeda dengan negara eropa dan negara maju modern lainnya. Maslah diskriminasi di kuwait sangant kental. Seperti kentalnya kopi mereka. Diskriminasi dari jenjang karir, gaji, perlakukan pimpinan dan sangsi dan semuanya sampe yang masalah tanggungjawab terhadap pekerjaaan. Dengan kapasistas yang sama (atau bahkan mungkin lebih..) non kuwaity tidak akan memperoleh penghargaan yang sama dengan kuwaities. Itu di pegawai pemerintah lho.. di swasta… juga gak jauh beda. Pegawai pemerintah juga tidak boleh cari site job… walaupun punya banyak waktu luang. Kalo ketahuan dan terbukti, pasti akan jadi maslah besar dan resiko diterminasi alias dipulangkan.
Berbisnis di Kuwait (dan negara teluk lain) sangat terbatas bagi para pendatang. Tidak ada aktifitas bisnis mandiri yang bisa dilakukan. HArus ada orang pribumi yang menanggung atau menjadi Wasta (backing-indonesia jaman dulu) buat usahanya. HAl ini diakui dan dikritik oelh negara2 eropa juga. Tapi bukan bangsa arab kalo mereka merubah aturan seperti ini. Dan bekerja sebagai pegawai swasta (bank, toko, penjahit, restoran, pabrik) akan mendapat gaji yang mengecewakan. Belum lagi perlakuan yang kadang kasar dan ketatnya aturan. <BR>&nbsp;<BR>Dalam hal kehidupan sosial kemasyarakatan…gak jauh beda juga… Dimana-mana… orang akan melihat siapa kamu dan siapa saya. Penduduk asli dengan bangganya akan menyebut "Ana Kuwaity" (Saya Pemilik negeri ini-kamu pendatang). Peraturanpun bisa dirusak dengan seenaknya oleh mereka. Artinya mereka bisa berbuat sekehendak hati di negeri sendiri. Misalnya kita mau membeli sesuatu di toko atau supermarket. Pegawai toko akan secara ototmatis (sadar atau tidak sadar) akan melayani mereka terlebih dulu walaupun kita sedang ngomong dan minta diterangin barang tertentu. (bisasnya kita langsung tinggal aja toko itu).&nbsp; Tapi jangan serem dulu… generasi sekarang ini lebih banyak yang berpendidikan dan lebih menghargai orang "sesuai dengan martabatnya". Tapi secara umum.. itulah nilai yang dianut oleh mereka. Pokoknya jagnan pernah mengharap perlakuan sama antara warga asli dan pendatang. Kita akan frustasi dibuatnya. TApi kalo antar sesama pendatang… ya sama saja. so.. kalo anda orang yang easy going… anda akan nyaman saja tinggal disini…

Karya

Tuesday, April 25th, 2006

Belakangan banyak hal yang membuka pikiranku tentang lirik lagu. dari cerocos cerocosnya bapak dari aquarius dan dari banyak memperhatikan lirik lagu lain juga dari masukan teman. tapi ada satu hal yang membuatku jengkel, yaitu biarpun ada lirikku sendiri yang aku menyadari perlu diperbaiki, tapi aku tetep gak bisa merubahnya! ada sesuatu dalam hatiku yang mengatakan padaku "itulah yang menjadi ekpresimu saat membuatnya, biarpun jelek itu tetap ekspresimu, memperbaikinya membuatmu membohongi diri sendiri".

Aku suka baca cerita2 tentang kehidupan orang lain. dari cerita2 itu aku suka membayangkan seperti apa jalan pikiran orang tersebut, bagaimana dia merepon sesuatu, apa tindakannya terhadap suatu kejadian. Berusaha mengira2 apa yang sebaiknya kutiru. Mengambil pelajaran dari situ.

1 jam sebelum menulis ini aku membaca beberapa tulisan orang tentang karya. salah satunya dari penulis novel Alexandria dan brownies, bilang: "Karya yang udah jadi nggak bisa dikutak-katik lagi. bikin aja yang lebih bagus lagi".

Dalam kepasrahanku akan keadaan, aku percaya itu. Mungkin lagu yang sudah jadi jika memang kurang bagus secara common sense, biarkan orang lain (yg tidak terlibat secara emosi pembuatan lagu tersebut) yang membuatnya lebih bagus (common sense). Karena bapak itu selalu menekankan COMMON SENSE jika ingin komersial dalam bisnis musik. Lagi pula kalo boleh melegakan diri sendiri, mungkin saja segala omelan bapak itu tujuan utama & harapannya adalah terbuka lebih luasnya pikiran dari orang yang diomelinya. Lagi2 kuharus bersabar…

ok! next song!

About Beatles

Monday, April 24th, 2006

"We don’t like their sound, and guitar music is on the way out." Decca Recording Co. rejecting the Beatles, 1962.

If we could shrink the earth’s population to a village of 100 people with ratios remaining the same.

Monday, April 24th, 2006

There would be:

  • 57 Asians
  • 21 Europeans (14 from the Western Hemisphere, both north & south)
  • 8 Africans
  • 52 people would be female
  • 48 would be male
  • 70 would be non-white
  • 30 would be white
  • 70 would be non-Christian
  • 30 would be Christian
  • 6 would possess 59% of the entire world’s wealth (and all 6
  • would be from the U.S.
  • 80 would live in substandard housing
  • 70 would be unable to read
  • 50 would suffer from malnutrition
  • 1 would be near death;
  • 1 would be near birth
  • 1 (yes, only 1) would have a college education
  • 1 would own a computer

A TAD MORE . . .

  • If you woke up this morning with more health than illness, you are more blessed than the million who will not survive this week. If you have never experienced the danger of battle, the loneliness of imprisonment, the agony of torture, or the pangs of starvation, you are ahead of 500 million people in the world. If you can attend a church meeting without fear of harassment, arrest, torture, or death, you are more blessed that three billion people in the world.
  • If you have food in the refrigerator, clothes on your back, a roof overhead and a place to sleep, you are richer than 75% of this world. If you have money in the bank, in your wallet, and spare change in a dish someplace, you are among the top 8% of the world’s wealthy. If your parents are still alive and still married, you are very rare, even in the U.S. and Canada.
  • If you hold up your head with a smile on your face and are truly thankful, you are blessed, because most of us can, but few do. If you can hold someone’s hand, hug them, or even touch them on the shoulder, you offer healing, and are therefore blessed. If you can read this message, you just received a double blessing because someone is thinking of you, and because two billion people in the world cannot read at all.

MEMBACA SURAT NENEK (edited)

Monday, April 17th, 2006

Sewaktu membaca ada pelajaran yang bisa saya ambil. Karena itu saya posting ke sini. Mungkin bisa menginspirasi…

_________________________________________________________________________

"Sebetulnya impian ibu dulu, ibu bapak setelah pensiun dan anak2 sudah lepas akan hidup bahagia. Berkecukupan dengan gaji pensiun kita berdua. Tidak terpikir kalau orang semakin tua semakin banyak yang dikeluarkan karena badan tidak sekuat dulu lagi. Utamanya ibu yang sering terkena penyakit2, mungkin karena ibu kurang jaga kesehatan semasa muda. Pada siapa lagi ibu bapak meminta bantuan? Tentu ke anak2nya. kadang2 ibu tidak enak mengganggu anak2 ibu, mengingat sebagian besar anak2 ibu masih punya anak yang belum mandiri.

Sebenarnya tawaran anak2 untuk tinggal di rumah kalian ibu rasa bagus. Tetapi saat ini ibu belum bisa, alasannya:
- Berat meninggalkan rumah yang telah kita tinggali selama hampir 1/2 abad. Suka duka bersama bapak membesarkan kalian masihterbayang2
- Meskipun sudah tua ibu masih ingin omong - omong, ngobrol dengan tetangga tapi dengan teman sebaya. Disinilah tempat yang cocok untuk ibu, karena tetangga2 sekitar juga sudah lama tinggal disini. Meskipun ibu tidak sekuat dulu lagi untuk berjalan2, bertamu. Tapi kalau duduk di teras tentu ketemu teman yang lewat dimuka rumah. Apakah hal ini bisa ditemukan di rumah anak2.
- ASKES ibu di Banjarmasin. kalu terjadi apa2 dengan ibu kalian yang menanggungnya. ibu tidak ingin merepotkan.

Sedang kalau ke Banjarbaru ketempat Dian Ibu bisa melihat, membersihkan dan berdoa di makam bapak. Pengeluaran biaya hidup juga bisa lebih hemat. Tiap hari ibu punya teman bicara, yaitu Dinda. Meskipun tak sebaya Dinda bisa menghibur hati ibu, karena sedang dalam keadaan lucu2nya. Kalau cucu yang lebih besar mana bisa diajak bicara. Meskipun begitu setelah 7-10 hari ibu suka kangen pulang ke rumah yang di Banjarmasin."