Dari kompas media cyber
Pengalaman pahit di negeri orang ("Wulan" di Eropa)
Saya ingin menyampaikan pengalaman semasa hidup di negeri orang, saya tinggal di negeri ini hampir 2 tahun. Saya tinggal di eropa karena perkawinan dg orang eropa. Tidak lama setelah saya menikah alhamdulillah kita langsung tinggal di sini. Pertama kali disini, saya liat wah ada orang Indonesia ketemu di toko Asian, rasanya senang dan kita saling tukar alamat, juga ada perkumpulan orang-2 indonesia di acara keagamaan. Masih tukar menukar alamat lagi. Karena kangen juga untuk berbahasa indonesia. Tetapi setelah begitu lama untuk punya bbrp teman orang Indonesia, malah saya pusing dibuatnya. Ada yg hanya membicarakan materi, dari produk dan merk yg dibeli serta komplet harga-2nya. Dan ada rasa bangga untuk memberitahukannya. Biasanya suka dia nelpon kemudian tiba-2 cerita kalo baru membeli produk A dg harga sekian. Dan selalu bertanya aku yg saya punya merek apa. Saya seperti diperdaya karena saya orang baru waktu itu, kemudian ada acara ulangtahun, memang adat sini diberi tau apa saja yg diinginkan. Tapi in lebih aneh: dg diberikan listingnya komplet di mana saya belinya dan sekalian harganya di atas 10 euro-an, di atas 100 rb (yg katanya adalah murah), mengingat anaknya masih kecil 5 tahun. Seperti biasa keluarga suami juga kalo anaknya ultah selalu memberi listing juga tapi wajar itu kan famili.
Kemudian, satu demi satu teman orang Indonesia, mulai tampak belangnya. Ada yg main merintah seenaknya tanpa sungkan-sungkan dari yg nitip anak, nitip belanjaan yg gak tanggung-tanggung daging(emang ada kuli yg bisa ngangkut?) dll. Pertama-tama saya mau melakukannya krn th pertama saya tinggal disini. Tapi kemudian saya bisa menolak pelan-2, bagaimana pintarnya kita untuk menge-les atau kita tegas aja bilang gak bisa dan tidak mau, itu kalo gak sungkan, lebih tipe-barat, yes or no!! Pelan-pelan juga kita harus belajar untuk bisa menolak tidak. Demikian juga kalo waktu summer pulang kampung ke indonesia, ada juga teman yg nitip barang, tapi saya bilang enggak bisa, bagaimana kita untuk menge-les saja. Yg penting enggak merepotkan kita dan hidup bisa enjoy.
Dulu saya berpikir ada kegiatan arisan wah sepertinya menyenangkan kalo kita bisa ngumpul. Tapi malah menimbulkan masalah baru. Dan teman-2 saya indonesia ini lebih senang kalo kita bergantung dan merasa dibutuhkan, jadi dia akan gampang dimanfaatkan olehnya.
Sekarang alhamdulillah, satu demi satu teman saya tulis di map . Apa positifnya dan apa negatifnya, saya hitung ternyata banyak negatinya saya buang nama itu. Dan yg banyak positifnya saya masih jalin pertemanan saya, tapi dengan catatan kita mesti ada batasan, tidak deket sekali tidak juga jauh biasa saja. Karena bagaimanapun di negeri orang kita tidak bisa bergantung dengan teman, susah, sedih, sakit hanya diri kita yg menolong, kekuatan kita dan Tuhan. Jadi rasa trauma saya, kesal batin saya dengan kelakuan teman-2 saya sebangsa sendiri yg tega memanfaatkan teman bangsa sendiri. Dan saya kuatkan kembali batin saya, tidak takut kalo tidak punya teman banyak ato tidak punya teman sama sekali(kasarnya). Tapi alhamdulillah ada kegiatan lain yg bisa mengisi hari hari saya di negeri ini, membaca, menulis, menonton, shopping, main internet, memasak, mengatur rumah, mengunjungi orang tua-panti. Diisi dg kegiatan lain, jadi merasa hidup saya disini lebih berati daripada saya menelpon/ditelpon sana sini dg menggosip tak jelas, nggak dapat keuntungan apa-2, hanya capek, kecewa dan menderita batin saya.
Dua tahun sudah saya merasakan bagaimana suka duka saya memilih teman, menjajaki dengan mereka. Mungkin kita bisa berbagi disini, jadi sebaiknya kalo ada teman sesama bangsa ketemu di jalan ato di tempat lain, sebaiknya keep your identity(telefon nomor) dulu, jangan keburu-2 memberikan identitas diri, diam, jajaki lawan kita(kasarnya) mau kemana nih omongan-nya, kalo sekiranya ada yg nyleneh, pelan-2 kita mundur. Jangan paksakan untuk diteruskan karena akan menjadi bomerang dalam diri kita, kasian batin kita nanti. Jangan takut kalo tidak mempunyai teman banyak atao tidak berteman sama sekali kalo kenyataannya mereka merugikan hidup kita. Pelan-2 juga ketemu akhirnya, sambil mengisi hari-2 kita, banyak kegiatan lain yg kita bisa kerjakan sendiri dan menyenangkan. Jangan deket-dekat dulu sebelum tahu mereka detailnya, selektif lah. Baru kalo sama-2 fair kita bisa maju bersama. Walaupun itu ada sebangsa dg kita, buka diri dg teman dari kultur lain siapa tau mereka lebih baik, lebih fair, dan sekalian belajar kultur lain. Kita harus tegas bertindak, tidak ragu-ragu ato sungkan, katakanlah walaupun itu pahit.
Alhamdulillah saya ada teman dari Indonesia disini yg bisa support, yg saya anggap sebagai kakak, dan bisa memberikan ketentraman spiritual, tidak cerita merek-2an ato merintah seenaknya sendiri, dan juga ada saudara-saudara dan teman-teman yg notabene orang bule dari suami saya yg enak diajak curhat, walaupun beda kultur tapi rasanya hati nyaman. Alhamdulillah terimakasih ya Allah kau berikan kembali hidup saya lebih berarti dari hari kemarin…Sekian pengalaman negatif saya di negeri orang. Mudah-2an berguna bagi teman-teman kita di negeri orang.
————————————————————————————————
Dari Kuwait
Saya sekarang tinggal di kuwait, dan bekerja sebagi pegawai pemerintah. Saya sudah bekerja di sisni selama kurang lebih 2 tahun.
Membaca dan menyimak pengalaman temen2 yang hidup di luar negeri (bukan timur tengah) rasanya berbeda sekali dengan apa yang dialami oleh kita2 (yang notabene pegawai pemerintah). Kami hidup sepenuhnya dijamin mulai dari perumahan, makan, seragam bahkan transport untuk bepergian seminggu sekali. Itu bagi kita2 yang singgle atau tidak ada keluarga. Saya sendiri tinggal di akomodasi perumahan buat para singel. So.. seutuhnya menikmati fasilitas mulai dari telepon (internet bayar kartu sendiri), makan dan sebagainya. Yang terpenting juga fasilitas keamaanan dan kesehatan.
Tapi bagi mereka yang berkeluarga, mereka harus menyewa flat dan harganya menusuk jantung. HArga flat 2 kamar dengan satu kamar kecil untuk pembantu berkisar antara 1/3 - 1/2 dari gaji kita. Beruntung buat mereka yang suami istri bekerja karena minimal mereka bisa menyisihkan tabungan untuk keluarga dan pendidikan anak yang juga tidak gratis. Pendidikan juga sangat mahal di kuwait. Dan itu berlaku hanya untuk non kuwaity (Non Warga negara kuwait). Buat kuwaity, semua gratis.. bahkan ada tunjangan buat mereka yang mau sekolah( kebanyakan generasi mereka malas sekolah). Waah… pokoknya mereka menjadi raja di negara sendiri. Semua pendatang (yang memang bekerja) bener2 dianggap pelayan oleh kuwaities ini. (Untuk cerita soal perilaku mereka… tunggu cerita selanjutnya aja ya… pokoknya seru…).
Kembali ke maslah pendidikan anak. YAng selama ini dialami oleh temen2 ini di negeri Eropa, amerika dan australia sangat berbeda dengan kita2 disini. Sekolah untuk non kuwaity (rata2 orang indonesia memasukkan anaknya ke pakistany school, Inida or philiphinn school ). Gak ada Indonisia school di kuwait. Dan mau tau biayanya?… Pokoknya.. sya sendiri tidak ada rencana untuk menyekolahkan anak di kuwait.. Terbayar oleh kita pegawai pemerintah. Tapi itu merogoh saku kita cukup dalam. Ada sekolahan Amerika dan British juga. TApi… muahalnya… reeek…<BR> <BR>Terus masalah peluang karir. Sangat berbeda dengan negara eropa dan negara maju modern lainnya. Maslah diskriminasi di kuwait sangant kental. Seperti kentalnya kopi mereka. Diskriminasi dari jenjang karir, gaji, perlakukan pimpinan dan sangsi dan semuanya sampe yang masalah tanggungjawab terhadap pekerjaaan. Dengan kapasistas yang sama (atau bahkan mungkin lebih..) non kuwaity tidak akan memperoleh penghargaan yang sama dengan kuwaities. Itu di pegawai pemerintah lho.. di swasta… juga gak jauh beda. Pegawai pemerintah juga tidak boleh cari site job… walaupun punya banyak waktu luang. Kalo ketahuan dan terbukti, pasti akan jadi maslah besar dan resiko diterminasi alias dipulangkan.
Berbisnis di Kuwait (dan negara teluk lain) sangat terbatas bagi para pendatang. Tidak ada aktifitas bisnis mandiri yang bisa dilakukan. HArus ada orang pribumi yang menanggung atau menjadi Wasta (backing-indonesia jaman dulu) buat usahanya. HAl ini diakui dan dikritik oelh negara2 eropa juga. Tapi bukan bangsa arab kalo mereka merubah aturan seperti ini. Dan bekerja sebagai pegawai swasta (bank, toko, penjahit, restoran, pabrik) akan mendapat gaji yang mengecewakan. Belum lagi perlakuan yang kadang kasar dan ketatnya aturan. <BR> <BR>Dalam hal kehidupan sosial kemasyarakatan…gak jauh beda juga… Dimana-mana… orang akan melihat siapa kamu dan siapa saya. Penduduk asli dengan bangganya akan menyebut "Ana Kuwaity" (Saya Pemilik negeri ini-kamu pendatang). Peraturanpun bisa dirusak dengan seenaknya oleh mereka. Artinya mereka bisa berbuat sekehendak hati di negeri sendiri. Misalnya kita mau membeli sesuatu di toko atau supermarket. Pegawai toko akan secara ototmatis (sadar atau tidak sadar) akan melayani mereka terlebih dulu walaupun kita sedang ngomong dan minta diterangin barang tertentu. (bisasnya kita langsung tinggal aja toko itu). Tapi jangan serem dulu… generasi sekarang ini lebih banyak yang berpendidikan dan lebih menghargai orang "sesuai dengan martabatnya". Tapi secara umum.. itulah nilai yang dianut oleh mereka. Pokoknya jagnan pernah mengharap perlakuan sama antara warga asli dan pendatang. Kita akan frustasi dibuatnya. TApi kalo antar sesama pendatang… ya sama saja. so.. kalo anda orang yang easy going… anda akan nyaman saja tinggal disini…