Archive for July, 2006

Hacking or Stealing?

Thursday, July 20th, 2006

pernah denger ada yang dapatkan barang2 keren dari hasil ngehack(barang gak keren juga gpp, :D)?
dengan penekanan pada kata ‘ngehack’ seperti sesuatu yang benar2 cool?
gobloknya kadang2 dia sendiri gak tau kalo yang dilakukannya sebenarnya bukan ngehack, tapi stealing.
well, kalo kamu cuma memasukkan data2 kartu kredit milik orang lain yang kamu dapatkan dari internet. itu bukan hacking namanya, tapi murni ’stealing’
karna ada org lain yang bingung di lain tempat yang duitnya terpake banyak untuk ‘belanjain’ kamu.
Ngehack sendiri adalah suatu hal yang advance sehingga gak banyak org yang bisa melakukannya. perlu latar belakang komputer yang kuat untuk bisa ngehack.
orang yang ngehack harus melalui semacam serangkaian pemecahan kode untuk memasuki suatu site lewan ‘jalan belakang’. apalagi juga site tersebut punya firewall yg ‘tebal’, akan lebih banyak rangkaian yang mesti dilalui,
jadi, are u hacking or stealing? kalo cuma dapet data kartu kredik jangan ngomong ngehack dong! semua org juga bisa! tinggal tongkrongin IRC doang,…

kata hacking mungkin akan lebih keren soalnya paling gak bakal keliatan pintar udah bisa masuk suatu site lewat ‘jalan belakang’ tapi 22nya tetep aja nyuri intinya. kata hacking sendiri udah menjadi semacam pengganti kata mencuri di dunia internet sebagai versi yang lebih halus dari mencuri.
sama seperti kata2 uang kopi, uang transpor, untuk menghaluskan kata upah, salam tempel untuk menghaluskan dikasih duit.
mau gak denger suatu saat kamu denger; "eh, aku barusan ngehack mobil orang tapi di mall"
geli banget kan dengernya…

Wednesday, July 19th, 2006

Mengajukan permohonan "Surat Tanda Kelakuan Tobat"…

sedikit kisah…

Tuesday, July 18th, 2006

Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam. Mereka ingin Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam menunjuk pemimpin buat mereka. Sebelum Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam memutuskan siapa, Abu Bakar berkata: "Angkat Al-Qa’qa bin Ma’bad sebagai pemimpin." Kata Umar, "Tidak, angkatlah Al-Aqra’ bin Habis." Abu Bakar berkata ke Umar, "Kamu hanya ingin membantah aku saja," Umar menjawab, "Aku tidak bermaksud membantahmu." Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar makin keras.

________________________________________________________________________

Well, aku suka percakapan ini. didalamnya ada keterus terangan yang berani, dan kebesaran hati menerima keterus terangan yg cenderung kasar buat sebagian org, tapi ia tau lawan bicaranya tidak menghardik dgn benci padanya. Berbantahan tapi tetap konsentrasi pada tujuan, nggak tau kenapa tujuan berbantah tetap diatas ego, mungkin lagi baik aja (jarang2, hehehe). tapi kadang ketika suatu bantahan hadir dari emosi suatu ego diri (bukan lagi pada tujuan diskusi), kadang ingin sekali berkata seperti diatas: "kamu hanya ingin membantahku". bisa gak ya…

surat terbuka

Friday, July 14th, 2006

tau gak kamu, ku menulis itu sekali jalan
setiap kata yg mau ditulis selalu dibayangkan dulu
dan menulis dgn hati2
dengan tulisan tgn yg paling bagus yg aku bisa,
yg sekilas tetep aja kayak tulisan anak SD
tapi kali ini lagi mata pelajaran menulis halus.
kadang air mata haru jatuh ke kertas. rindu.
aku harap kamu akan senang karna kali ini
aku kirim surat yg sedikit lain dari biasanya.
rasanya mau beli amplop yg bagus tapi
kenapa kebanyakan amplop bagus dan wangi yg dijual
desainnya kayak buat anak2 atau paling gak buat cewek dewasa? emangnya yg laki2 dewasa gak kepengen lagi ya? takut dibilang genit kali.
akhirnya aku kirim aja pake amplop putih seperti biasanya.
kilat khusus seperti biasanya.
sesudahnya aku tunggu respon mu.
1 kali kita telfonan, gak disinggung
2 kali kita telfonan, sepertinya basi kalo aku tanya
karena jelas saja puisi itu tak sebagus yg org2 seni di sekitar kamu
bahkan kamu pernah bekerja bersama org2 puisi tingkat tinggi itu.
mungkin tulisanku tdk menyentuh hatimu.
lalu waktu berlalu seakan puisi itu tidak pernah tercipta
tdk pernah terkirim
dan tdk pernah kamu membacanya.
dan mungkin sekarang kertasnya sdh di salah satu TPA di kotamu
dibakar menjadi abu yg beterbangan kemana2
atau diolah jadi kayu untuk perabotan rumah.
biar, mungkin puisi itu memang jelek.
dan kamu hanya bingung saat menerimanya
lalu tdk tahu mesti merespon apa.
dan akupun sebenarnya malu utk mendengar tanggapanmu
sehingga urung untuk bertanya duluan.
yg kusadari sekarang adalah, setiap pertanyaan dgn jawaban yg tertunda,
akan menunggu jawaban sampai akhir hayatnya,
bisa saja kupura2 cuek tdk butuh.
tapi kalo aku berani jujur pada diri sendiri.
dihati yang paling dalam ini berkata, AKU INGIN TAHU.
apalagi kemaren aku dengar ibu bertanya kepada nenek.
kenapa dulu nenek ‘begini begitu’?
hati tertegun mendengarnya.
tak termakan usia sebuah pertanyaan yg menanti jawaban.
kenapa usia bertambah bukan berganti?
karena ketika usiamu 50 tahun, dirimu tetap menyimpan dirimu yang 49 tahun lalu. setiap tahunnya.
kedewasaan seperti kemampuan untuk menutupi sifat kanak2mu.
dan ketika tekanan untuk menampakkan sifat kedewasaan  yg sebenarnya tdk perlu, menghilang karna kamu sudah pensiun dan kamu hanya keliling komplek rumah bertukar cerita dgn sesama jompo dan kamu terlalu sering bergaul dgn cucu2mu kamu akan bebas mengekspresikan versi lengkap dari umurmu 1- 50 tahun.
kalo saja aku menemukanmu di komplek perumahanku 30 tahun dari sekarang. mungkin aku akan teriak ke kamu seperti remaja 17 tahun
"kenapa kamu tidak singgung suratku!!!!"

mencari rumah

Wednesday, July 12th, 2006

aku bilang ke bapak dan ibu, aku ingin kembali, napak tilas mengulangi masa lalu, mencari ‘rumah’. sekalian ngadu nasib, karena ada teman lama, dulu pernah ngeband bareng. sekarang dia jadi pengusaha, dia bilang balik aja… kangen nih ;). Katanya kerja ama dia aja… hhhhh memang susah kalo banyak kepentingan yg mesti diperjuangkan. menentukan pilihan susah, mungkin harus ada langkah ekstrim kali yaaaa, banting gitar atau bakar ijazah. selesai! hahahahaha :)) tetep deh kayaknya…. banting gitar jadi peternak, bakar ijazah juga jadi peternak! wakakakakakak!!

ehm, sekaligus aku tanya kenapa kita harus ‘keliling’. mencari rizki kata mereka. tidak bisa dibantah, akupun turut merasakan naik turunnya perjuangan mereka. terimakasih atas semuanya…

aku hanya ingin mencari dimana ‘rumah’. kadang ‘rumah’mu tidak sama dengan ‘rumah’ orang tuamu… apalagi jika kisahmu terlalu berbeda dengan mereka.

dulu waktu saya kecil kadang bapak dan ibu obrol dalam bahasa ug saya tdk mengerti, bahasa jawa, karena sejak kecil saya gak pernah tinggal di jawa, saya pun gak pernah denger bahasa itu kecuali di TV - TV waktu acara ketoprak dan beberapa acara lainnya. gak ngerti apa artinya, sayapun gak tanya karna toh lingkungan saya gak berbicara dengan bahasa itu, orang tuapun gak pernah mengajarkan. tapi kadang mengetahui bahwa orang tuamu berbeda memberikan perasaan ’sendiri’. mereka punya tempat kenangan yang berbeda terlalu jauh dari tempat kenanganmu sendiri.

bapakku asli jawa dan ibuku sebenarnya org banjarmasin pura2 jawa, karena semenjak bayi sampai lulus SMA semuanya di dilalui dibanjarmasin. hanya mungkin karena kakek dan nenek menjaga sekali kejawaan mereka maka mereka berbicara didalam rumah dengan bahasa jawa dan berlangganan majalah2 serta koran2 jawa serta mengajarkan budaya2 jawa (orang tua saya tidak), sehingga ibu lancar berbahasa jawa. aku tidak tahu alasan kakek nenek begitu, apakah karna kolot atau karna loyal? kadang satu sifat negatif yang kuat dan satu sifat positif yang kuat sering jalan berdampingan. kadang org sukses berkas keras kepala, keliatan penyabar karena terbiasa ditekan dari kecil. mengembangkan pola pemikiran karena raganya tertahan.

Semenjak pindah ke jawa, bapak ibu kadang mulai mengajak berbicara dengan bahasa jawa, karena mereka memang org jawa, tapi setiap mereka mengajak berbicara bahasa jawa saya merasa terintimidasi, tdk tau kenapa , mungkin karna saya tidak ingin suasana rumah berubah, 18 tahun sudah bapak dan ibu berbicara dengan bahasa indonesia di rumah, kenapa harus karna mereka orang jawa (well biarpun ibu saya jawa imitasi) dan sekarang berada kita semua harus berbicara bahasa jawa? sejenak bapak dan ibu terlihat seperti alien buat aku. bahkan setelah byk berdiskusi dengan bapak, ternyata bapak menyimpan falsafah hidupnya dari ajaran2 jawa dan lengkap dengan bahasa2nya yang tingkat kesusahannya seperti dunia ke 4 (dunia api2) dalam game super mario bros! dan aku menjadi merasa jadi sedikit asing.

namun seumur hidup 18 tahun, saya belum pernah mengalami suatu paksaan baik secara halus maupun kasar untuk mengikuti suatu budaya tertentu. syukurlah tempat tinggal saya terdahulu sungguh terbiasa dengan sesuatu yang berbau nasional. bagi mereka ngobrol dengan akrab tidak harus dengan bahasa daerah. cocok dengan saya yang merasa ngobrol dengan akrab ya pake bahasa indonesia (karena itu bahasa yang saya pake sehari2 dan bahasa yang saya pake untuk berbicara didalam hati). saya pikir selama org saling mengerti dengan bahasa masing2, kenapa harus sama? diantara bahasa2 yang lawan bicara mengerti, saya merasa berhak memakai bahasa yang saya nyaman memakainya.

kenapa saya mengambil judul mencari rumah?
karena, beberapa kali saya pergi dari keluar kota, selama lebih dari seminggu. tak pernah saya pulang dengan menghela nafas panjang dan berkata dalam hati "horeeee aku pulang". Setelah 7 tahun kota ini belum menjadi rumahku..
tak spt tempat tertinggal yang dahulu saat pulang selalu lega dan berkata "home sweet home"
ada apa?

"rumah adalah tempat dimana hatimu berada"

dan aku ingin meyakinkan diri kembali dimana hatiku berada….
namun jika tak kembali napak tilas bagaimana kubisa tahu?
kadang lautan seperti jembatan menuju segala tempat, begitu luas dan seperti tak berujung, tapi kita tahu diujung sana ada tempat yg kita ingin kunjungi
mungkin jaman dulu akan lebih mudah…
ketika semua org bebas menentukan ia akan jadi apa?
ketika cerita2 pengembara menjadi jembatan benua
dan semua org mendengarkan seperti mendengar dunia di langit yang berbeda
kadang kecepatan informasi dan teknologi punya sisi yang menghilangkan romantisme dunia…
tidak adalagi nenek2 yang teriak ke cucu2nya waktu mereka pulang "jgn lupa kirim surat ya"
tdk ada lagi pasangan yang berjanji di suatu tempat pada suatu hari dan jam lalu menunggu dengan harap2 cemas (udah ada HP)
tdk ada telegram lagi dari keluarga yang tiba2 mengabarkan kan datang segera.
mungkin hukum kekekalan energi tdk hanya berlaku dalam fisika, tapi juga emosi kehidupan.
kalo hukum kekekalan energi mengatakan tidak ada energi yang menghilang dan tidak ada energi yang tercipta yg ada hanya berubah.
mungkin begitu juga dengan energi kemudahan di jaman sekarang ini.
energi itu tidak tercipta begitu saja, tetapi hasil perubahan dari energi yang lain, tidak harus satu energi menjadi satu energi yang lain, tetapi bisa sejumlah energi menjadi

suatu energi, atau sebaliknya, satu energi menjadi sejumlah energi lain yang lebih kecil. dan salah satu yang telah berubah adalah romantisme dunia.
kembali lagi, jika sekarang adalah masa lalu
mungkin aku akan jalan ke dermaga dan bertanya pada kapal2 yang mengembara mencari tahu tentang dunia, akan kemanakah mereka?
disaat informasi begiu cepat dan teknologi semakin kuat.
hasrat untuk melihat dunia yang berbeda tertahan oleh arus informasi.
tak ada lagi pengembara2 yang berkeliling dan menebar cerita, membagi hasrat kepada org yang ditemuinya untuk melihat dunia, semua sudah tahu.

dan bayangkan aja kalo udah ada teknologi pemindah jasad kayak dipilem starstrek itu? tdk adalagi yg punya hati bergejolak, paling2 gelombang kecil aja. karena tak ada lagi rindu yang sedalam ini, yg seperti sedang aku alami.

"kami mau ke barat, boleh, tapi kalo kamu malas kerja aku lempar kelaut!(sambil sok garang). jadi ikut? cepetan!
"beres! jadi bos!"

Menjaga kewibawaan lewat penahanan.

Tuesday, July 4th, 2006
Lagi, Grup Musik Hina Polisi - Personel "Edy and Residivis" Diamankan
Ditulis oleh Administrator    
Monday, 03 July 2006

Denpasar - Bali
Grup
musik yang diduga menghina Polri kembali diamankan. Setelah pendukung "Uncle Punk" diamankan Polres Buleleng, kini giliran lima personel "Edy and Residivis" (ER) digelandang ke kantor polisi. Mereka manggung di acara amal untuk bencana gempa Yogyakarta, di Lapangan Pegok, Sesetan, Sabtu (1/7) malam.

Musisi yang diamankan jajaran Polsek Densel itu, masing-masing Edi (vokal), Joy (bass), Agus Oka (drum), Deny (gitar dan melodi) dan Teguh Setia Budi alias Igo (pencipta lagu sekaligus manajer grup musik). Para personel ER diduga menghina polisi lewat sebuah lagu berjudulAnjing”. Pada lirik lagu itu tertera polisi adalah anjing yang pintar menyamar.

Informasi di lapangan, pergelaran musik untuk menggalang dana gempa Yogyakarta digelar Pusat Bantuan Hukum Indonesia (PBHI). Acara tersebut diikuti sembilan grup band antara lain Seringai, Lolot, SID, Bintang, Navikula, Edy and Residivis, Jony Agung and Double T, Parau dan Born By Mistick. Semula kegiatan berlangsung meriah.

Grup musik ER manggung dari pukul 20.00 hingga 20.30 wita. Dalam waktu setengah jam, vokalis Edi membawakan lima buah lagu. Salah satunya berjudulAnjing”. Lirik lagu yang dinilai menghina polisi, "badan kekar, kumis melingkar, gayanya hai man, melebihi setan, terang saja nyaliku tertantang, tak pakai tunggu, langsung ku serang serbu, rambut panjang dicat kuning kampungan, berkaca hitam padahal sudah malam, ku pikir preman ternyata bukan, ku pikir roker ternyata polisi, anjing kukira preman, anjing ternyata polisi. Simpan borgol itu jangan penjarakan aku, cuma kubawa emosi, siapa suruh pintar menyamar, sampai-sampai kamu ku sambar".

Jajaran Polsek Densel menerima informasi dari masyarakat, bahwa lirik lagu yang dibawakan grup musik ER isinya menghina polisi. Setelah ditelusuri lebih mendalam, polisi memburu para personel ER. Alhasil, petugas berhasil mengamankan lima orang termasuk manajer ER. Lirik lagu dari ER menghina instansi polisi,” tegas penyidik, Minggu (2/7) kemarin.

Edi dkk. diboyong ke Mapolsek Densel untuk menjalani pemeriksaan intensif. Salah satu personel ER, Igo mengaku tak bermaksud menghina polisi. Ia hanya mengingatkan masyarakat tentang bahaya premanisme. Cerita dari lirik itu adalah seorang polisi yang sedang menyamar dan kena pukul preman,” ucap Igo.

Informasi di Mapolsek, penyidik menetapkan dua tersangka masing-masing Edi dan Igo. Polisi juga memeriksa dua saksi, Detu (koordinator acara) dan Bayu (dokumentasi). Atas perbuatan menghina polisi, kedua tersangka dinilai melanggar pasal 207 tentang penghinaan institusi negara dengan ancaman hukuman 1 tahun 4 bulan. Kapolsek Densel AKP Made Astawa seizin Kapoltabes Denpasar ketika dimintai konfirmasi, membenarkan ada personel grup musik yang ditahan. (jep/jay)

kentut

Monday, July 3rd, 2006

"hey siapa kentut!"
"aku! kenapa?"
"bau tahu! kalo kentut menyingkir dong!"
"gila aja kentut menyingkir! ini kesenangan tau! harus segera disalurkan, kalo gak bisa kentut kan gak sehat!"
"tapi kan gak sopan! bau!"
"kata siapa? gw biasa nyium kentut, kalo samar2 baunya kan gak menganggu! kalo gak suka jangan dihirup! kalo soal sopan mah relatif…"
"lo pikir orang gak butuh bernafas, main suruh orang gak usah hirup segala!"
"pantat pantat gw, kalo mau kentut terserah gw dong"
"brengsek lu! pake pantat jangan ganggu orang dong! hidung gw jadi gak bebas bernafas nih"
"brengsek lu! kayak gak bisa pergi ketempat lain aja kalo gw lagi kentut!

Disana dan Disini

Sunday, July 2nd, 2006

Surabaya 3 Juni 2006

tak kenal maka tak sayang…

dulu waktu lokasi kejadiannya disana, karena tak banyak yang kenal, mungkin karena lokasinya jauh, beberapa brani bilang mereka banyak dosa karena tertimpa musibah itu. sekarang karena lokasinya dekat, definisi tertimpa musibah menjadi berubah, sedang diuji tuhan katanya, belakangan ada yang lebih dekat lagi, sedang diuji tuhan lagi katanya. memang tak kenal maka tak sayang…