aku bilang ke bapak dan ibu, aku ingin kembali, napak tilas mengulangi masa lalu, mencari ‘rumah’. sekalian ngadu nasib, karena ada teman lama, dulu pernah ngeband bareng. sekarang dia jadi pengusaha, dia bilang balik aja… kangen nih ;). Katanya kerja ama dia aja… hhhhh memang susah kalo banyak kepentingan yg mesti diperjuangkan. menentukan pilihan susah, mungkin harus ada langkah ekstrim kali yaaaa, banting gitar atau bakar ijazah. selesai! hahahahaha :)) tetep deh kayaknya…. banting gitar jadi peternak, bakar ijazah juga jadi peternak! wakakakakakak!!
ehm, sekaligus aku tanya kenapa kita harus ‘keliling’. mencari rizki kata mereka. tidak bisa dibantah, akupun turut merasakan naik turunnya perjuangan mereka. terimakasih atas semuanya…
aku hanya ingin mencari dimana ‘rumah’. kadang ‘rumah’mu tidak sama dengan ‘rumah’ orang tuamu… apalagi jika kisahmu terlalu berbeda dengan mereka.
dulu waktu saya kecil kadang bapak dan ibu obrol dalam bahasa ug saya tdk mengerti, bahasa jawa, karena sejak kecil saya gak pernah tinggal di jawa, saya pun gak pernah denger bahasa itu kecuali di TV - TV waktu acara ketoprak dan beberapa acara lainnya. gak ngerti apa artinya, sayapun gak tanya karna toh lingkungan saya gak berbicara dengan bahasa itu, orang tuapun gak pernah mengajarkan. tapi kadang mengetahui bahwa orang tuamu berbeda memberikan perasaan ’sendiri’. mereka punya tempat kenangan yang berbeda terlalu jauh dari tempat kenanganmu sendiri.
bapakku asli jawa dan ibuku sebenarnya org banjarmasin pura2 jawa, karena semenjak bayi sampai lulus SMA semuanya di dilalui dibanjarmasin. hanya mungkin karena kakek dan nenek menjaga sekali kejawaan mereka maka mereka berbicara didalam rumah dengan bahasa jawa dan berlangganan majalah2 serta koran2 jawa serta mengajarkan budaya2 jawa (orang tua saya tidak), sehingga ibu lancar berbahasa jawa. aku tidak tahu alasan kakek nenek begitu, apakah karna kolot atau karna loyal? kadang satu sifat negatif yang kuat dan satu sifat positif yang kuat sering jalan berdampingan. kadang org sukses berkas keras kepala, keliatan penyabar karena terbiasa ditekan dari kecil. mengembangkan pola pemikiran karena raganya tertahan.
Semenjak pindah ke jawa, bapak ibu kadang mulai mengajak berbicara dengan bahasa jawa, karena mereka memang org jawa, tapi setiap mereka mengajak berbicara bahasa jawa saya merasa terintimidasi, tdk tau kenapa , mungkin karna saya tidak ingin suasana rumah berubah, 18 tahun sudah bapak dan ibu berbicara dengan bahasa indonesia di rumah, kenapa harus karna mereka orang jawa (well biarpun ibu saya jawa imitasi) dan sekarang berada kita semua harus berbicara bahasa jawa? sejenak bapak dan ibu terlihat seperti alien buat aku. bahkan setelah byk berdiskusi dengan bapak, ternyata bapak menyimpan falsafah hidupnya dari ajaran2 jawa dan lengkap dengan bahasa2nya yang tingkat kesusahannya seperti dunia ke 4 (dunia api2) dalam game super mario bros! dan aku menjadi merasa jadi sedikit asing.
namun seumur hidup 18 tahun, saya belum pernah mengalami suatu paksaan baik secara halus maupun kasar untuk mengikuti suatu budaya tertentu. syukurlah tempat tinggal saya terdahulu sungguh terbiasa dengan sesuatu yang berbau nasional. bagi mereka ngobrol dengan akrab tidak harus dengan bahasa daerah. cocok dengan saya yang merasa ngobrol dengan akrab ya pake bahasa indonesia (karena itu bahasa yang saya pake sehari2 dan bahasa yang saya pake untuk berbicara didalam hati). saya pikir selama org saling mengerti dengan bahasa masing2, kenapa harus sama? diantara bahasa2 yang lawan bicara mengerti, saya merasa berhak memakai bahasa yang saya nyaman memakainya.
kenapa saya mengambil judul mencari rumah?
karena, beberapa kali saya pergi dari keluar kota, selama lebih dari seminggu. tak pernah saya pulang dengan menghela nafas panjang dan berkata dalam hati "horeeee aku pulang". Setelah 7 tahun kota ini belum menjadi rumahku..
tak spt tempat tertinggal yang dahulu saat pulang selalu lega dan berkata "home sweet home"
ada apa?
"rumah adalah tempat dimana hatimu berada"
dan aku ingin meyakinkan diri kembali dimana hatiku berada….
namun jika tak kembali napak tilas bagaimana kubisa tahu?
kadang lautan seperti jembatan menuju segala tempat, begitu luas dan seperti tak berujung, tapi kita tahu diujung sana ada tempat yg kita ingin kunjungi
mungkin jaman dulu akan lebih mudah…
ketika semua org bebas menentukan ia akan jadi apa?
ketika cerita2 pengembara menjadi jembatan benua
dan semua org mendengarkan seperti mendengar dunia di langit yang berbeda
kadang kecepatan informasi dan teknologi punya sisi yang menghilangkan romantisme dunia…
tidak adalagi nenek2 yang teriak ke cucu2nya waktu mereka pulang "jgn lupa kirim surat ya"
tdk ada lagi pasangan yang berjanji di suatu tempat pada suatu hari dan jam lalu menunggu dengan harap2 cemas (udah ada HP)
tdk ada telegram lagi dari keluarga yang tiba2 mengabarkan kan datang segera.
mungkin hukum kekekalan energi tdk hanya berlaku dalam fisika, tapi juga emosi kehidupan.
kalo hukum kekekalan energi mengatakan tidak ada energi yang menghilang dan tidak ada energi yang tercipta yg ada hanya berubah.
mungkin begitu juga dengan energi kemudahan di jaman sekarang ini.
energi itu tidak tercipta begitu saja, tetapi hasil perubahan dari energi yang lain, tidak harus satu energi menjadi satu energi yang lain, tetapi bisa sejumlah energi menjadi
suatu energi, atau sebaliknya, satu energi menjadi sejumlah energi lain yang lebih kecil. dan salah satu yang telah berubah adalah romantisme dunia.
kembali lagi, jika sekarang adalah masa lalu
mungkin aku akan jalan ke dermaga dan bertanya pada kapal2 yang mengembara mencari tahu tentang dunia, akan kemanakah mereka?
disaat informasi begiu cepat dan teknologi semakin kuat.
hasrat untuk melihat dunia yang berbeda tertahan oleh arus informasi.
tak ada lagi pengembara2 yang berkeliling dan menebar cerita, membagi hasrat kepada org yang ditemuinya untuk melihat dunia, semua sudah tahu.
dan bayangkan aja kalo udah ada teknologi pemindah jasad kayak dipilem starstrek itu? tdk adalagi yg punya hati bergejolak, paling2 gelombang kecil aja. karena tak ada lagi rindu yang sedalam ini, yg seperti sedang aku alami.
"kami mau ke barat, boleh, tapi kalo kamu malas kerja aku lempar kelaut!(sambil sok garang). jadi ikut? cepetan!
"beres! jadi bos!"