Archive for November, 2006

The killing of animals for food is not morally wrong

Wednesday, November 29th, 2006

A question frequently posed by vegetarians is: how can you justify killing an innocent animal for food? This question may seem difficult to answer at first but really it is not. Would it be reasonable to ask a lion to justify his killing of an innocent gazelle? Of course not: it is natural for the lion to kill the gazelle and that is justification enough. And what of a gazelle’s right not to be eaten? Put this way, you can see that such questions are really meaningless. The same is true for us, for we are not a vegetarian species.

But, if the desire not to kill animals is a vegetarian’s reason for his stance, then he should know that,when land is farmed for food crops, more animals are killed. The following e-mail I received illustrates this well:

Dear Dr Groves

I agree with most of your points concerning the poor reasoning of most vegetarians. As a fairly observant zoologist, pathologist and sometimes farmer I can add even more.

As you and I know, most vegetarians are motivated, at least in part, by their view of the immorality of exploiting animals. Most of them, of course, are city dwellers who have never had the opportunity to till, plant and harvest a field with a vegetable crop.

Crop agriculture, even if inveterbrates are excluded, is devastating to small amphibians, reptiles, nesting birds and mammals. Even the occasional larger mammal is injured during the cropping process. Unavoidably, the plow destroys burrows and young. Harvest machines kill some animals directly and expose others to the tender mercies of predators. Many times, I have watched as coyotes and hawks follow my tractor feasting on the victims of the plow and reaper [hey, but it is nice for these predators].

Really, how could it be otherwise? Vegetables and cereals are the foods of many animals. For rodents, crops are a real bonanza in terms of food and shelter. They multiply rapidly which only increases the tally during field preparation and harvest.

To my thinking, there is little question that raising animals for meat, especially if they are not fattened with agricultural products, is far less devastating to animal life than is agriculture. If one acre of land produces one sheep a year for slaughter, one life is taken. If one acre of land is put into cereal production the cost in just mammalian life can be measured in the dozens or more.

Of course, animal death due to cropping is "invisible" and therefore doesn’t happen. Lamb chops in the market are visible and vegetarians weep for the victim. I know that these realities have no impact on animal-rights types -– they are not nearly so concerned with animal death and suffering as they are with animal death and suffering due to deliberate human actions. Their emphasis is, in fact, not on animal welfare but on the control of other human beings.

Ron B.

_________________________________________________________________________

Masak kalo semua org jadi vegetarian kita harus berebut daun ama kambing sih?

trus hewan kurban idul adha abis dipotong langsung dikasih hewan? hehehe

bukan punyamu saja

Wednesday, November 22nd, 2006

bukan punyamu saja

yang lain juga punya

kamu boleh namakan sesukamu, bahkan dengan namamu

tapi tetap itu bukan punyamu

itu tetap punya orang banyak…

punya orang yang dari dulu sudah mengetahuinya sebelum kamu.

bahkan sebelum kamu menamainya.

panggillah dia dengan nama menyenangkan

yang melambangkan bahwa itu dipunyai banyak orang.

sehingga orang lainpun tahu kamu cukup punya wawasan untuk mengetahui bahwa orang lain juga punya…

kamu tahu yang kumaksud…

Jangan Malu Mengatakan Aku Tidak Tahu

Thursday, November 9th, 2006
Allah subhanahu wata’ala mencela orang-orang yang berkata tentang sesuatu dengan tanpa ilmu, Dia mencela mereka di dalam Kitab-Nya yang Agung dan melalui lisan rasul-Nya yang mulia. Ini disebabkan karena ucapan tanpa ilmu adalah menyesatkan bukan memberi petunjuk, merusak bukannya mem-bangun. Sedangkan ucapan seseorang “Aku tidak tahu” dalam suatu hal yang tidak dia ketahui maka ini bukanlah aib, bukan cela dalam ilmunya maupun dalam kemampuannya, bahkan merupakan cerminan kesem-purnaan pengetahuannya.

Ketika Allah subhanahu wata’ala bertanya kepada para Rasul tentang ummatnya sepeninggal mereka, yakni tatkala mereka dikumpulkan pada hari Kiamat maka para rasul menjawab, “tidak tahu.” Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
“(Ingatlah), hari diwaktu Allah mengumpulkan para rasul, lalu Allah bertanya (kepada mereka), "Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)-mu". Para rasul menjawab, "Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu); sesungguhnya Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghaib". (QS. Al-Maaidah:109)

Demikian para rasul ketika Allah subhanahu wata’ala bertanya tentang ummatnya, “Apa jawaban ummatmu terhadap seruanmu?” Maka mereka menjawab, “Kami tidak mempunyai pengetahuan tentang itu,” pengetahuan tentang itu hanya ada pada-Mu wahai Rabb kami, Engkau lebih mengetahui daripada kami, sebab Engkaulah yang mengetahui perkara ghaib, yaitu Engkau mengetahui segala sesuatu yang ghaib dan yang tampak.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di, 2/36)

Ketika Allah subhanahu wata’ala bertanya kepada para malaikat tentang nama-nama benda yang ada di bumi, maka para malaikat menjawab sebagaimana firman-Nya, artinya,
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika memang kamu orang yang benar!” Mereka menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah:31-32)

Para malaikat tidak malu untuk menyerahkan perkara yang tidak mereka ketahui kepada yang mengetahuinya yakni Allah subhanahu wata’ala.

Ilmu merupakan lautan yang tidak bertepi, dan tidak ada yang dapat meliputinya kecuali Dzat yang Maha Meliputi segala sesuatu dengan ilmu, Allah Yang Maha Agung.

Adapun manusia, maka seluruh manusia hanya mempunyai perbekalan sedikit dari ilmu, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, artinya, "Dan tiadalah kalian diberikan ilmu kecuali hanya sedikit." (QS. Al-Israa’: 85). Jika demikian, maka bukan hal yang memalukan dan bukan merupakan aib jika seorang guru, ustadz atau siapa saja mengatakan tidak tahu terhadap apa yang tidak dia ketahui.

Al-Mawardi rahimahullah dalam Adabu ad-Dunya wa ad-Diin hal 123 mengatakan, “Jika seseorang tidak dapat menguasai sesuatu dengan ilmu maka bukan merupakan cela jika dia bodoh dalam sebagiannya. Dan jika bodoh dalam sebagian perkara bukan suatu aib maka bukan merupakan keburukan jika seseorang mengatakan “Aku tidak tahu” dalam hal yang tidak ia ketahui.”

Bahkan merupakan keburukan yang sangat besar jika seseorang melakukan penipuan terhadap orang lain dengan ucapan yang salah dan ngawur. Para siswa atau pun masyarakat pada umumnya jika mendapati seorang pengajar atau ustadz yang memberikan jawaban salah (ngawur) hanya semata-mata agar bebas dari satu kasus tertentu, maka suatu saat kebohongannya pasti akan tersingkap baik dalam waktu dekat atau lambat. Dan yang terjadi setelah itu adalah para siswa atau orang-orang akan kehilangan keper-cayaan terhadap setiap pengajaran dan informasi yang dia sampaikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri ketika beliau ditanyai sesuatu lalu beliau tidak mengetahui jawabannya, maka beliau mengatakan, “Aku tidak tahu,” sehingga turun wahyu kepada beliau tentang hal tersebut.

Suatu ketika ada seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu bertanya, “Wahai Rasulullah tempat manakah yang paling baik? Maka beliau menjawab, “Aku tidak tahu.” Lalu orang tersebut bertanya lagi, “Tempat manakah yang paling buruk?” Maka Rasulullah menjawab, “Aku tidak tahu.” Orang tersebut lalu berkata, “Tanyakanlah kepada Rabbmu.” Maka datanglah Jibril ’alaihissaalam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau berkata, "Wahai Jibril tempat manakah yang paling baik? Jibril menjawab, “Aku tidak tahu.” Lalu Nabi bertanya lagi, “Tempat manakah yang paling buruk?” Maka Jibril menjawab, “Aku tidak tahu.”

Demikianlah, hingga akhirnya Jibril ’alaihissaalam bertanya kepada Allah subhanahu wata’ala, sehingga diberitahukan bahwa tempat yang paling baik adalah masjid-masjid, dan tempat yang paling buruk adalah pasar-pasar.

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu juga telah mem-berikan contoh kepada kita dalam meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia mengatakan, “Langit yang manakah tempat aku bernaung, bumi manakah tempat aku berpijak jika aku mengatakan tentang Kitabullah dengan tanpa ilmu?”

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga mengatakan, “Sesungguhnya termasuk bagian dari ilmu jika engkau mengatakan tentang sesuatu yang tidak engkau ketahui, ‘Allahu a’lam (Allah yang lebih tahu).”

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan sebagaimana diriwayat-kan oleh Asy-Sya’bi, bahwa beliau keluar menemui para tabi’in lalu berkata, “Sungguh membuat hati menjadi sejuk.” Lalu ditanyakan, “Apakah itu?” Beliau berkata, “Engkau mengatakan, “Allahu a’lam” terhadap sesuatu yang tidak engkau ketahui.”

Nafi’ mantan budak Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari beliau, dia mengatakan, “Bahwa Ibnu Umar apabila ditanya tentang sesuatu yang tidak dia ketahui dia menjawab, “Tidak tahu, aku tidak memiliki pengetahuan tentang itu.” Dan tentunya masih banyak ucapan-ucapan yang semakna dengan ini dari para shahabat, para imam dan ulama kaum muslimin.

Seorang penyair berkata,
Jika kau tak tahu tentang sesuatu yang ditanyakan padamu
Sementara tentangnya engkau tidak punya ilmu
Maka jangan katakan dengan tanpa kepahamanmu
Sesungguhnya kesalahan adalah cela bagi ahli ilmu

Jika engkau tidak tahu akan suatu perkara
Maka katakan aku tidak tahu jawabannya
Inilah bagian dari ilmu di sisi para ulama
Demikian selalu dikatakan oleh para hukama.

Dari pembahasan di atas dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu:

Ucapan dengan tanpa ilmu adalah perbuatan yang tercela, baik menurut Kitabullah maupun sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Orang yang berbicara dengan tanpa ilmu maka dia merusak bukan membawa kebaikan.

Ketidaktahuan tentang sesuatu bukan merupakan aib dan kekurangan bagi seorang guru (pengajar).

Rasa malu atau keengganan mengucapkan, “saya tidak tahu” jangan sampai menyebabkan seorang pengajar memberikan informasi yang salah kepada para pelajar.

Setiap pengajar wajib menanamkan pondasi sikap ini kepada seluruh siswa dan menekankan hal tersebut.

Ucapan “saya tidak tahu” adalah bagian dari ilmu bahkan Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa ia adalah separuh dari ilmu.”

Sumber: “Al Mu’allim al Awwal, Fuad bin Abdul Aziz Al Syalhub (Kholif Abu Ahmad)