Archive for December, 2006

Hari Ibu dan Kartini

Friday, December 22nd, 2006

Selamat hari Ibu dan Kartini! lho?

saya pengen deh baca buku kumpulan surat Kartini yang berjudul "Habis Gelap Terbitlah Terang"(titled, collected, published 7 year by JH Abendanon after Kartini died in 1904).

Ada yang punya? pinjem lebih murah deh kayaknya! hehehe…

Belakangan ini, penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar agak diperdebatkan. Dengan berbagai argumentasi, masing-masing pihak memberikan pendapat masing-masing. Masyarakat yang tidak begitu menyetujui, ada yang hanya tidak merayakan Hari Kartini namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember. Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya. Dalam sejarah bangsa ini kita banyak mengenal nama-nama pahlawan wanita kita seperti Cut Nya’ Dhien, Cut Mutiah, Nyi. Ageng Serang, Dewi Sartika (jenis perjuangan yang sama dengan Kartini), Nyi Ahmad Dahlan, Ny. Walandouw Maramis, Christina Martha Tiahohu, dan lainnya.

International reference:

Kartini loved her father deeply although it is clear that her deep affection for him became yet another obstacle to the realisation of her ambitions. He was sufficiently progressive to allow his daughters schooling until the age of 12 but at that point the door to further schooling was firmly closed. In his letters, her father also expressed his affection for Kartini. Eventually, he gave permission for Kartini to study to become a teacher in Batavia (now Jakarta), although previously he had prevented her from continuing her studies in the Netherlands or entering medical school in Batavia.

Kartini’s desire to continue her studies in Europe was also expressed in her letters. Several of her pen friends worked on her behalf to support Kartini in this endeavour. And when finally Kartini’s ambition was thwarted, many of her friends expressed their disappointment. In the end her plans to study in the Netherlands were transmuted into plans to journey to Batavia on the advice of Mrs Abendanon that this would be best for Kartini and her younger sister, Rukmini.

Nevertheless, in 1903 at the age of 24, her plans to study to become a teacher in Batavia came to nothing. In a letter to Mrs Abendanon, Kartini wrote that the plan had been abandoned because she was going to be married… "In short, I no longer desire to take advantage of this opportunity, because I am to be married..". This was despite the fact that for its part, the Dutch Education Department had finally given permission for Kartini and Rukmini to study in Batavia.

As the wedding approached, Kartini’s attitude towards Javanese traditional customs began to change. She became more tolerant. She began to feel that her marriage would bring good fortune for her ambition to develop a school for native women. In her letters, Kartini mentioned that not only did her esteemed husband support her desire to develop the woodcarving industry in Jepara and the school for native women, but she also mentioned that she was going to write a book. Sadly, this ambition was unrealised as a result of her premature death in 1904 at the age of 25.

Inspired by Kartini’s example, the Van Deventer family established the Kartini Foundation which built schools for women, ‘Kartini’s Schools’ in Semarang in 1912, followed by other women’s schools in Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon and other areas.

National reference:

Kartini hanya sempat memperoleh pendidikan sampai E.L.S. (Europese Lagere School) atau tingkat sekolah dasar. Setamat E.L.S, Kartini pun dipingit sebagaimana kebiasaan atau adat-istiadat yang berlaku di tempat kelahirannya dimana setelah seorang wanita menamatkan sekolah di tingkat sekolah dasar, gadis tersebut harus menjalani masa pingitan sampai tiba saatnya untuk menikah.

Sejak saat itu, dia pun berkeinginan dan bertekad untuk memajukan wanita bangsanya, Indonesia. Dan langkah untuk memajukan itu menurutnya bisa dicapai melalui pendidikan. Untuk merealisasikan cita-citanya itu, dia mengawalinya dengan mendirikan sekolah untuk anak gadis di daerah kelahirannya, Jepara. Di sekolah tersebut diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Semuanya itu diberikannya tanpa memungut bayaran alias cuma-cuma.

si keras kepala dan si ‘buta’

Sunday, December 17th, 2006

si buta dan si keras kepala berteman lama.

si keras kepala selalu melihat bahwa setiap usaha pasti akan menghasilkan sesuatu…

si ‘buta’ selalu percaya akan sikeras kepala, ia mendukung setiap usahanya… walau kebanyakan org tidak sependapat dengannya.

sekarang orang2 merubah nama si keras kepala menjadi si gigih.

karna sekarang si gigih bisa menampakkan sesuatu yang bisa di lihat dengan jelas.

si keras kepala menyadari bahwa si’buta’ banyak memberi pada dirinya. selama ini si ‘buta’lah yg memberi mendukungnya saat kepercayaan dirinya menurun, dan memberi kata2 pembangkit saat semangatnya menurun.

kesadaran ini membuatnya berubah melihat dunia, melihat org yang disanjung banyak org dengan cara yang berbeda, mencari siapa si ‘buta’ yang berada di balik tokoh itu, karena si ‘buta’ selalu melihat dengan hatinya, dan melihat sikap keras kepala (yg akan dinamakan gigih jika org banyak mulai bisa ‘melihat’) yg dirinyalah yang menamakannya pertama kali dengan kata gigih saat org lain belum bisa melihatnya. Seperti Nabi Muhammad SAW yang punya Siti Khadijah yang selalu menyelimutinya dengan kasih sayang sepulang dari gua Hira sambil berkata "Aku percaya". dan masih banyak tokoh2 lainnya.

happy birthday again to me! :)

Tuesday, December 5th, 2006

rasanya seperti berulang tahun kembali saat membuka bungkusan itu. padahal sudah lewat 5 bulan sejak hari ulang tahunku.

kemaren lusa saya ambil bungkusan wasiat itu, saya pikir ada apa dengan bungkusan itu. deg2an aku saat membukanya… aku berpikir macam2… ada apa sampai harus diwasiatkan… waktu aku buka, ternyata isinya, sebuah gelas mug sederhana dengan tulisan ‘happy birthday resa adilaksana’. melongo antara terharu dan kaget. maaf ya, jarang sekali aku mengingatmu dalam doaku untuk kamu disana. aku merasa tidak pantas menerima ini, mungkin bagi orang lain ini biasa aja, tp buat aku ini berharga. kamu memesan ini saat kamu sakit rupanya.

anak kucing yang dulu kamu beri, sekarang sudah jadi ibu, anaknya empat, satu mirip ibunya yang 3 lagi hitam putih sepertinya mirip obel… jenis kelaminnya masih terlalu kecil untuk di raba :), mata sudah buka, kadang suka jalan2 dengan akting bumi lagi gempa bumi…

stop surabaya rock (saja)!

Monday, December 4th, 2006

beberapa minggu yang lalu, ada temen pulang dari jakarta, musisi juga, karna lama gak ketemu ceritalah kami macam2, gak penting untuk ditulis semua disini sih, yang menyangkut judul aja, yang jelas, ia bilang; wah gak seru kalo musisi surabaya gak ngerock, surabaya kan terkenalnya rock. memang sih itu menurut dia aja. tapi lusanya ketemu temen waktu lagi garap materi lagi bareng, dia bilang; kok gak ngerock yah, wah gak laku kalo band dari surabaya gak ngerock.

menurutku gak mungkin org dalam satu kota satu dalam selera, jadi kenapa kalo ada bakat diluar dari kebiasaan mayoritas kenapa gak didukung aja. kasian kan kalo bentar2 yang minoritas merasa salah jalan hanya karna gak sama dengan yg mayoritas. lagi pula kalo dari surabaya bisa sukses selain band rock tentu bisa lebih mengharumkan nama surabaya. ada sih, cuma mungkin kurang mewakili kaum mudanya…

don’t have to play hard to be heard…

berbesar hati atau hanya sandiwara?

Friday, December 1st, 2006

mengagumkan sekali cara mereka bertemu… padahal aku tahu mereka saling membenci…
tertawa2 saling melempar canda…
andai aku punya kemampuan seperti itu, paling tidak aku bisa terlihat classy dalam menghadapi ketidak cocokan.
tapi mungkin definisiku terhadap sikap classy dalam menghadapi
ketidakcocokan berbeda, bukan dengan cara berpura2 tidak ada sesuatu
apapun yang terjadi… kalo gak suka ya udah diem(kalo mungkin untuk
dibicarakan lbh baik) aja tapi tdk berlaku yg tdk gak sopan/kasar. aku
takut kalo harus pake becanda2 segala supaya keliatannya baik2 saja aku
malah jadi semakin pandai menipu diri sendiri… karena menurutku
kecocokan memang bisa dikompromikan selama yang kita mampu/mau, tp tdk
akan pernah bisa diatasi/dihilangkan sampai salah satu mengikuti paham
yang lainnya, rasa tuntutan untuk berkompromi setiap bertemu selalu
ada, bila energi untuk berkompromi yang dibutuhkan jauh lebih besar
pada org tertentu, mungkin lebih baik menghindar, kalo bakalan cepat
lelah untuk menghadapi dan mungkin saja malah jadi emosi.
kalo aku sih mendingan juga nipu org lain ajah daripada nipu diri sendiri! :p

i love handuk

Friday, December 1st, 2006

ibuku bilang jangan pake handuk kalo mandiin kucing, tapi tetep aja diem2 aku pake handuk
kalo ibu nunjukin kain pel untuk ngeringin lantai kamar, aku cuma pura2 ngambil lalu didalam kamar aku tetap ngeringkan lantai pake handuk
aku tahu lap2 buat bersihkan meja atau kaca2 ada di dapur, tapi aku ambil handuk kecilku yang ada dikamar.
bu, kalo ibu mampir kerumahku nanti untuk mengunjungi cucumu, kelak ibu akan nemukan handuk dengan macam2 jahitan tulisan di permukaannya, seperti: handuk kucing, handuk buat lap2an, handuk buat cuci mobil, dan handuk buat ngepel.
handuk emang enak baik buat segala macam hal2 untuk bersih2. handuk kecil yang murah juga ada kok.