Archive for January, 2007

jumatan

Monday, January 29th, 2007

biasa, pengkhotbah trus mimpin doa bersama, buat yang doanya pake bahasa arab, waktu pas mengaminkan bersama aku ikut yang terakhir aja. "ya Allah aku gak tau tadi arti doa khatibnya apa aja, yang jelas yang baik2 tolong kabulkan ya Allah". selesai. yang lain pake pra bayar aku pasca bayar aja. hehehe.

sok kasar

Thursday, January 25th, 2007

mungkin ada pemikiran kalo gak sok kasar kurang jantan kali ya… jadinya dipaksa2in sok kasar biarpun bukan stylenya…

Membunuh

Sunday, January 21st, 2007

Sebuah artikel bagus dari Samuel Mulia

___________________________________________________

Oleh Samuel Mulia

Penulis Mode dan Gaya Hidup

Teman bule saya bercerita di suatu siang. Maksud saya punya teman bule, itu tak berarti saya bisa berbicara dalam bahasa Inggris selancar air di kali deres. Maksudnya kalinya yang alirannya deres. Teman bule saya yang justru lancar berbahasa

Indonesia

dengan benar, lebih lancar dan lebih benar dari saya berbahasa Inggris dan berbahasa

Indonesia

. Itu yang sering kali mengherankan saya.

Para

bule itu bisa berbahasa

Indonesia

lebih benar dari saya, meski terdengar kaku, ketimbang saya yang kalau berbicara dan menulis tak pernah lepas dari kata ba, bo, ba, bo.

Tentu saja dari sekian bule yang bisa berbahasa

Indonesia

dengan benar, ada juga bule yang sudah menetap dan hidup bersama dengan manusia

Indonesia

masih belepotan bahasa Indonesianya, sama seperti belepotannya bahasa Inggris saya. Maksud saya hidup bersama itu bukan kumpul kebo, tetapi menikah. Saya belum pernah melihat kebo mau kumpul sama manusia. Dan kalau menikah tak hidup bersama, apalah gunanya, bukan? "Yaaa… adalah gunanya, Mas. Jadi enggak terlalu nempel dan paling tidak masih punya ‘ruang’ buat diri sendiri," kata teman wanita saya. "Emang kalau berdua ruang tamunya jadi kekecilan, ya?" tanya saya. "Mas, jadi orang itu mbok pinteran sedikit gitu loh," balasnya kesal.

Mari mendengar cerita teman saya yang bule ini saja. Ia adalah seorang wartawan. Pada suatu hari ia meliput sebuah rumah makan untuk dituliskan di sebuah media tempatnya bekerja. Singkat cerita, rumah makan itu penuh sekali "borok"-nya. Kurang inilah, kurang itulah, layanannya nol, makanannya nol. Pokoknya, rumah makan itu betul-betul tak patut untuk didatangi. Meski menurutnya tak layak dikunjungi, dan penilaiannya di bawah nol yang sudah mirip suhu di musim dingin, ia tetap menuliskan dan memuat hasil liputannya itu.

Kacamata kuda

Masa penilaian itu sudah lama lalu. Berita tentang si rumah makan yang buruk rupa itu juga sudah hilang dari ingatannya. Maksudnya, ia tidak hilang ingatan. Yang hilang adalah ingatannya tentang tulisannya itu. Jadi virus hilang ingatan juga menyerang kepalanya, dua bulan belakangan ini menyerang saya juga. Karena gara-gara virus hilang ingatan itu, saya sudah kehilangan empat kacamata baca saya dalam waktu sesingkat dua bulan itu, sampai petugas di optik langganan saya di sebuah mal, geleng-geleng kepala. Ia bahkan berkomentar demikian, "Nanti kalau sudah sampai sepuluh, saya kasih kacamata kuda aja ya, Mas."

Saya tertawa, karena sebetulnya saya sudah memakai kacamata kuda itu sejak lama. Dengan kacamata itu, saya sering merasa diri paling benar, menjadi ekstremis, sangat mudah marah dan mudah tersinggung, seandainya pendapat saya ditentang. Itu semua terjadi karena saya tak mau melepaskan kacamata kuda itu atau memakai kacamata lainnya. "Kalau pakai kacamata lainnya, apalagi yang plus kayak punya elo itu, malah enggak cuma kehilangan ingatan, tetapi kehilangan penglihatan," kata teman saya.

Teman bule saya melanjutkan ceritanya. Setelah tulisan tentang rumah makan itu berlalu sekian tahun, ia bertemu seorang bule di dalam pesawat terbang saat ia sedang dalam sebuah perjalanan wisata. Ia membuka pembicaraan. Bertanya ini dan itu, bercerita ke

sana

kemari. Dan, sampai pada suatu waktu, ia menanyakan apa yang dikerjakan teman barunya itu di

Indonesia

. Teman dadakannya itu bercerita kalau ia pernah mempunyai bisnis rumah makan dan terpaksa ditutup karena tidak laku.

Sebagai seorang wartawan yang terbiasa mengajukan pertanyaan, maka teman bule saya bertanya lagi. Ia menanyakan soal nama rumah makan itu. Maka, lawan bicaranya memberi sebuah nama yang tiba-tiba jadi terdengar seperti lonceng bergema di telinga dan mengingatkannya pada tulisan kejamnya beberapa tahun lalu, yang mirip pisau membelah jantung dan membuat yang punya jantung tak bisa hidup lagi. Ia kaget setengah mati dan merasa malu dan perasaan bersalah tiba-tiba menyusup begitu saja. "Sebegitu tajamnya tulisan saya sehingga saya membunuhnya. Dirinya, dan apa yang dicintainya," katanya.

Mulut silet, tangan belati

Saya tak bisa tertawa. Tak bisa juga menangis. Tetapi sesak napas. Karena bertahun lamanya, saya juga melakukan pembunuhan besar-besaran melalui tulisan saya. Saya punya filosofi the pen is mightier than the sword. Saya sering lupa bahwa apa yang saya tulis tak hanya menyedihkan orang, tetapi juga membunuh bisnis seseorang, yang membuat orang dipermalukan. Saya tak pernah berpikir panjang kalau menulis. Saya tak pernah menempatkan diri saya, kalau saya yang giliran jadi pemilik rumah makan itu. "Tapi

kan

mereka juga perlu dikritik," celetuk teman saya. Kritik? Kata itu sangat dahsyat dan sering kali termanipulasi. Kritik itu tak membunuh. Kritik itu buat saya seharusnya membuat orang naik kelas, bukan turun kelas dan akhirnya kehilangan kesempatan untuk maju.

Sebagai seorang wartawan, saya seharusnya tahu kalau materi tulisan saya tak layak muat karena begitu banyak kekurangannya, yaaa… tak perlu dimuat. Untuk apa kalau sebuah rumah makan sama sekali tak layak muat, tetap saya muat? Itu tak membantu pembaca saya bisa menikmati rumah makan itu, bukan? Kecuali saya memang sedang bercita-cita melakukan kesenangan membunuh.

Saya seharusnya menulis agar pembaca saya lebih pandai, lebih bisa terbuka, dan bukan ikut membunuh bersama saya. Kalau saya punya problem dengan rumah makan itu, saya tak perlu menyeret orang lain untuk turut dalam rencana pembunuhan itu. Karena apa yang saya nilai buruk, mungkin tak demikian buat orang yang bisa mempunyai mata hati yang berbeda dengan saya, yang acap kali terisi dengan panas hati, iri hati, dan kekecewaan hidup. dengan demikian pena yang saya gunakan adalah pena yang seperti pisau. "Makanyaaaa… Mas, dari dulu sudah aku bilang, jangan jadi makelar pisau," kata teman saya. "Mulut sudah kayak silet, sekarang tangannya bawa belati. Maksudnya, sampean wartawan, apa algojo?" kata teman saya "Algojo yang wartawan. Ehhh…wartawan yang algojo," jawab saya kembali.

thanks for your support…

Sunday, January 14th, 2007

aku sudah menemukan hasratku

aku akan mengejarnya

akankah itu jadi biasa2 saja, bagus maupun jelek

aku akan mencari tahu ujung dari jalan itu

selagi waktu masih ada, aku akan jalan dijalan itu, dan menemukan ujungnya.

maukah kau mendukungku, katakan saja "kamu bisa"

bahkan biarpun sebenarnya aku tidak bisa, kata itu selalu memancing keluar yang terbaik dari diriku.

dan bila kau lakukan itu, itu artinya kamu mengantarku hingga ke ujung jalan, dan akankah kulupakan hal semanis itu seumur hidupku?

gotta show off huh?

Saturday, January 13th, 2007

sikap diamku membuatku keliatan tidak tahu

tapi aku gak punya hasrat untuk menunjukkan dengan jelas bahwa aku tahu…

sikap menyepelekanmu tidak menggodaku…

mungkin sebenarnya kamu tahu kalo aku tahu, tapi sengaja kau tunjukkan sikap ‘kamu-pasti-belum-tahu’. mungkin untuk memuaskan emosimu

sekali lagi aku tdk tergoda, aku sedang menikmati perasaan ini, perasaan ‘kamu-keliatan-bodoh-sekali-gak-merasa-kalo-aku-sudah-tahu’.

kalo sering bergaul ma kucing mesti hapal suara kucing horny, tapi jawaban apa yang akan kuterima kalo aku tanya kucing itu "pus, kamu lagi horny yah? udah di’hajar’ ama kucing sebelah?"

sama seperti aku hapal sikap diatas, tapi jawaban apa yang akan kuterima kalo aku tanya?

kadang, gak perlu tanya, kita bisa ngerasa… kalo ada keyakinan kenapa gak?

resa, reza atau reza?

Saturday, January 6th, 2007

apa bedanya? keliatan sama saja ya?

buat saya tentu tidak.

balik ketika saya SD di ciledug tangerang, saya tinggal di suatu komplek yang banyak anak kecil sebayanya, hampir setiap minggu kita main kumpul bersama, entah itu manjat menara, lari2 keliling lapangan, perang2an pake bazooka (pipa di isi mercon terbang), dll.

yang reza selalu dipanggil reza, dan resa selalu resa, dan reja selalu reja… alias spellnya bener semua! mungkin karena masih kecil orang tua masing2 rajin mempromokan bagaimana menyebut nama anaknya dengan benar.

lalu saya pindah ke banda aceh, disana saya tetap dipanggil resa, tapi buat temen lainnya yang bernama reza atau reja, perbedaannya kurang jelas, dan kalau saya sebut nama saya resa untuk di tulis, nama saya tetep ditulis resa bukan reza atau paling tidak ditanyakan pakai ’s’ atau ‘z’. tapi tetep ada temen yang panggil ‘reja/reza’ mungkin dilidah mereka lebih enak begitu, dan itu kutemukan bukan pada temen dekatku atau mysweet friend (istilahku buat temen yang gak begitu deket tapi mereka selalu nice). jadi ada enaknya juga, tanpa menengok aku sudah tau kalo dipanggil reja pasti belum dekat.

dan tiba pada masanya SMS, aku menemukan mysweet friend selalu mengeja namaku dengan tepat pada kesempatan mereka tau ejaan namaku, dan yang tidak sepertinya adalah orang yang menganggap menghargai orang lain dengan menulis namanya dengan tepat terlalu berlebihan, saya gak merasa tersinggung. tapi gak tau kenapa, orang2 yang aku respect selalu menulis namaku dengan tepat pada kesempatan pertama mereka tau ejaan namaku, dan tidak pura2 belum tau.

topik sepele yah? hehe. saya suka bahas masalah sepele, bukan berarti untuk dibesar2kan, biarlah yang sepele tetap menjadi sepele. tapi, dari hal sepele itu, ada yang bisa diketahui, tentang orang lain, dan diri kita sendiri. menarik. tapi akhir2 ini saya kasih respon yang berlebihan jika ada yang tanya pake ’s’ atau pake ‘z’. meluangkan sedikit waktu untuk melongo sebentar. :D

Ten Reasons why Two Kittens Are Better Than One

Monday, January 1st, 2007

From Franny Syufy,

The decision to adopt a kitten is an exciting event, but not to be entered into lightly. Kittens require an enormous amount of care, which, of course, is compensated by the extreme pleasure of watching them grow and develop. Sometimes, it is better to adopt two kittens, whether this is your first cat or an addition to a feline family. I put the challenge to my forum members to explain why two kittens are better than one. They came up with some very solid and creative arguments for two kittens.

Reason #1: You’re saving two lives instead of one.

As Sarah reasoned, "If it’s kitten season, that’s one more kitten that will get a home instead of growing into an adult which will decrease its chance of getting adopted." It is entirely true that kittens are much easier to place than adult cats, and the 15-month-old cat you see in the shelter today is very likely a holdover from last year’s crop of kittens. Another way of looking at it is that it’s better to get all the kittens adopted out right away, to give the older cats a better chance at finding homes.

Reason #2: One kitten can become lonely

A kitten left alone during the day can become lonely and bored, 10reasons2_1 which sometimes can lead to mischief. Two kittens will never be lonely, especially if they are siblings. In fact, you’ll often find situations in shelters and rescue group adoption where a cage will contain two kittens with a sign, "These kittens may be adopted only as a pair." Shelter volunteers recognize that siblings really need to stay together. And since shelters are often frightening, unfriendly places to small creatures, unrelated cats often form close bonds that should be respected when adoption time comes.

Reason #3: One kitten can just drive an older cat nuts

Although it might sound contrary, an older, established cat will 10reasons3 probably accept two kittens better than one. One kitten will seek out the older cat as a playmate, or worse, tease and pester the senior cat which can cause stress to an older cat. The kitten in return, will be "rewarded" for his playful efforts with hisses and swats. Two kittens will expend their energy in play with each other, leaving their

Reason #4: Two kittens will "self-train."

Kittens learn by copying. If one kitten is quick to learn appropriate 10reasons4 litter box use, the other will be likely to copy. They also help each other with grooming; washup after meals soon becomes a ritual with two kittens                                                                                        

Reason #5: They help each other burn off energy.

Even the most devoted human caregiver can quickly become 10reasons5 exhausted by trying to keep up with the energy of a single kitten. Two kittens will wear each other out, leaving their human parent free to just enjoy watching them. The downside to this, of course, as Judy Litt so aptly put it is, "…but of course, sometimes you have double trouble, too — I still remember the time I spent at least 15 minutes getting one or the other of them out of my armoire; everytime I got one out, the other one was in there."

Reason #6: Fewer behavior problems with two kittens.

Many people who experience behavior problems with kittens find 10reasons6 that some of them go away when they adopt another playmate. What may be perceived as mischief is often just the result of boredom. Much like their human counterparts, kittens sometimes misbehave because "negative attention is better than no attention."

Reason #7: Curiosity overcomes "food finickyness."

Two kittens share everything, including food preferences. Yesrie 10reasons7 came up with a zinger: "If one kitten is finicky about food, the belligerence is often overcome by curiosity at what its sibling is eating. (Feed one cat Same Old, the other cat New Stuff, and they both end up tasting the new stuff.)"

Reason #8: They act as pillows for one another.

Joey finds that Jaspurr makes a superb pillow. Kittens will often play 10reasons8_1 so hard that they simply flop where they are, and more likely than not, they will flop next to (or on top of) each other. There is no sight so endearing as two kittens curled up together for a nap. Their peaceful innocence can soften the heart of even the grumpiest curmudgeon, and the sight of that blissful moment will wash clean the slate of their previous misdoings.

Reason #9: Having two kittens is insanely fun.

There’s no denying it; kittens are insanely fun! Steve summed it up 10reasons9 nicely, and Judy confirmed it, "And last, of course, they’re just so much darn fun to watch!" Having lived through (and survived nicely) the joy of adopting and raising two kittens, I can personally attest to the downright fun of having two kittens.

Reason #10: They will each have a friend for life.

Jaspurr and Joey enjoy their first birthday "cake," together - still 10reasons10 best friends Two kittens who grow up together will almost always be lifelong friends. Although they will sometimes have their little squabbles (what friends don’t?) you will more often see them engaging in mutual grooming, playing together, and sleeping with their best pal.
If you are considering adopting a kitten, think about your best friend and consider whether you would deprive your kitten of the enrichment a friend brings to life.