Penulis Mode dan Gaya Hidup
Teman bule saya bercerita di suatu siang. Maksud saya punya teman bule, itu tak berarti saya bisa berbicara dalam bahasa Inggris selancar air di kali deres. Maksudnya kalinya yang alirannya deres. Teman bule saya yang justru lancar berbahasa
Indonesia
dengan benar, lebih lancar dan lebih benar dari saya berbahasa Inggris dan berbahasa
Indonesia
. Itu yang sering kali mengherankan saya.
Para
bule itu bisa berbahasa
Indonesia
lebih benar dari saya, meski terdengar kaku, ketimbang saya yang kalau berbicara dan menulis tak pernah lepas dari kata ba, bo, ba, bo.
Tentu saja dari sekian bule yang bisa berbahasa
Indonesia
dengan benar, ada juga bule yang sudah menetap dan hidup bersama dengan manusia
Indonesia
masih belepotan bahasa Indonesianya, sama seperti belepotannya bahasa Inggris saya. Maksud saya hidup bersama itu bukan kumpul kebo, tetapi menikah. Saya belum pernah melihat kebo mau kumpul sama manusia. Dan kalau menikah tak hidup bersama, apalah gunanya, bukan? "Yaaa… adalah gunanya, Mas. Jadi enggak terlalu nempel dan paling tidak masih punya ‘ruang’ buat diri sendiri," kata teman wanita saya. "Emang kalau berdua ruang tamunya jadi kekecilan, ya?" tanya saya. "Mas, jadi orang itu mbok pinteran sedikit gitu loh," balasnya kesal.
Mari mendengar cerita teman saya yang bule ini saja. Ia adalah seorang wartawan. Pada suatu hari ia meliput sebuah rumah makan untuk dituliskan di sebuah media tempatnya bekerja. Singkat cerita, rumah makan itu penuh sekali "borok"-nya. Kurang inilah, kurang itulah, layanannya nol, makanannya nol. Pokoknya, rumah makan itu betul-betul tak patut untuk didatangi. Meski menurutnya tak layak dikunjungi, dan penilaiannya di bawah nol yang sudah mirip suhu di musim dingin, ia tetap menuliskan dan memuat hasil liputannya itu.
Kacamata kuda
Masa penilaian itu sudah lama lalu. Berita tentang si rumah makan yang buruk rupa itu juga sudah hilang dari ingatannya. Maksudnya, ia tidak hilang ingatan. Yang hilang adalah ingatannya tentang tulisannya itu. Jadi virus hilang ingatan juga menyerang kepalanya, dua bulan belakangan ini menyerang saya juga. Karena gara-gara virus hilang ingatan itu, saya sudah kehilangan empat kacamata baca saya dalam waktu sesingkat dua bulan itu, sampai petugas di optik langganan saya di sebuah mal, geleng-geleng kepala. Ia bahkan berkomentar demikian, "Nanti kalau sudah sampai sepuluh, saya kasih kacamata kuda aja ya, Mas."
Saya tertawa, karena sebetulnya saya sudah memakai kacamata kuda itu sejak lama. Dengan kacamata itu, saya sering merasa diri paling benar, menjadi ekstremis, sangat mudah marah dan mudah tersinggung, seandainya pendapat saya ditentang. Itu semua terjadi karena saya tak mau melepaskan kacamata kuda itu atau memakai kacamata lainnya. "Kalau pakai kacamata lainnya, apalagi yang plus kayak punya elo itu, malah enggak cuma kehilangan ingatan, tetapi kehilangan penglihatan," kata teman saya.
Teman bule saya melanjutkan ceritanya. Setelah tulisan tentang rumah makan itu berlalu sekian tahun, ia bertemu seorang bule di dalam pesawat terbang saat ia sedang dalam sebuah perjalanan wisata. Ia membuka pembicaraan. Bertanya ini dan itu, bercerita ke
sana
kemari. Dan, sampai pada suatu waktu, ia menanyakan apa yang dikerjakan teman barunya itu di
Indonesia
. Teman dadakannya itu bercerita kalau ia pernah mempunyai bisnis rumah makan dan terpaksa ditutup karena tidak laku.
Sebagai seorang wartawan yang terbiasa mengajukan pertanyaan, maka teman bule saya bertanya lagi. Ia menanyakan soal nama rumah makan itu. Maka, lawan bicaranya memberi sebuah nama yang tiba-tiba jadi terdengar seperti lonceng bergema di telinga dan mengingatkannya pada tulisan kejamnya beberapa tahun lalu, yang mirip pisau membelah jantung dan membuat yang punya jantung tak bisa hidup lagi. Ia kaget setengah mati dan merasa malu dan perasaan bersalah tiba-tiba menyusup begitu saja. "Sebegitu tajamnya tulisan saya sehingga saya membunuhnya. Dirinya, dan apa yang dicintainya," katanya.
Mulut silet, tangan belati
Saya tak bisa tertawa. Tak bisa juga menangis. Tetapi sesak napas. Karena bertahun lamanya, saya juga melakukan pembunuhan besar-besaran melalui tulisan saya. Saya punya filosofi the pen is mightier than the sword. Saya sering lupa bahwa apa yang saya tulis tak hanya menyedihkan orang, tetapi juga membunuh bisnis seseorang, yang membuat orang dipermalukan. Saya tak pernah berpikir panjang kalau menulis. Saya tak pernah menempatkan diri saya, kalau saya yang giliran jadi pemilik rumah makan itu. "Tapi
kan
mereka juga perlu dikritik," celetuk teman saya. Kritik? Kata itu sangat dahsyat dan sering kali termanipulasi. Kritik itu tak membunuh. Kritik itu buat saya seharusnya membuat orang naik kelas, bukan turun kelas dan akhirnya kehilangan kesempatan untuk maju.
Sebagai seorang wartawan, saya seharusnya tahu kalau materi tulisan saya tak layak muat karena begitu banyak kekurangannya, yaaa… tak perlu dimuat. Untuk apa kalau sebuah rumah makan sama sekali tak layak muat, tetap saya muat? Itu tak membantu pembaca saya bisa menikmati rumah makan itu, bukan? Kecuali saya memang sedang bercita-cita melakukan kesenangan membunuh.
Saya seharusnya menulis agar pembaca saya lebih pandai, lebih bisa terbuka, dan bukan ikut membunuh bersama saya. Kalau saya punya problem dengan rumah makan itu, saya tak perlu menyeret orang lain untuk turut dalam rencana pembunuhan itu. Karena apa yang saya nilai buruk, mungkin tak demikian buat orang yang bisa mempunyai mata hati yang berbeda dengan saya, yang acap kali terisi dengan panas hati, iri hati, dan kekecewaan hidup. dengan demikian pena yang saya gunakan adalah pena yang seperti pisau. "Makanyaaaa… Mas, dari dulu sudah aku bilang, jangan jadi makelar pisau," kata teman saya. "Mulut sudah kayak silet, sekarang tangannya bawa belati. Maksudnya, sampean wartawan, apa algojo?" kata teman saya "Algojo yang wartawan. Ehhh…wartawan yang algojo," jawab saya kembali.