siapa pun yang menulisnya, kalo bisa memberi manfaat kenapa tidak? kadang2 orang2 menjadi sinis, karena yang menulisnya bukanlah seorang professional, bahasanya slang, dan lain2. Bahkan kalo saja seorang pelacur menulis buku "lika liku seorang pelacur", kenapa tidak? kalo saya sih, misalnya liat judul buku itu di rak toko buku. akan langsung saya beli! bagaimana lagi cara untuk mengerti kehidupan mereka dengan cara mudah? tinggal duduk dirumah dan baca bukunya.
coba kalo kamu harus booking tempat dilokalisasi dulu trus ngajak ngobrol PSKnya berjam2. pasti bakal mahal dan tidak gampang membuat orang bercerita panjang lebar. itu adalah contoh ekstrimnya.
seorang teman pernah bilang ke aku. itu kan cuma buku, pandangan dari seorang penulis aja, belum tentu benar.
setuju, belum tentu benar. tapi coba gunakan analogi ini; misalkan jika sebuah buku diceritakan lewat mulut memakan waktu 24 jam nonstop (coba aja baca keras dan jelas sebuah buku tebal seakan2 kamu sedang bicara ke orang lain, itung sendiri waktunya). mungkin kita hanya betah mendengar 1 hari 4 jam nonstop aja (asumsi saja), jadi sebuah buku akan selesai setelah pembacaan hari ke 6. coba bayangkan jika itu benar2 dilakukan? apakah ada yang mau melakukannya dengan harga umum sebuah buku saja? belum lagi untuk berbicara seperti itu perlu persiapan dan pemikiran cara penyampaian ke pendengar?
belum lagi kalo rasa sinis kita muncul terus kita iseng memberi pertanyaan memojokkan. tentu tidak selesai 6 hari. bukan berarti ini mengesampingkan komunikasi 2 arah. cuma ada saatnya kita harus mendengarkan penjelasan orang lain sampai selesai sebelum akhirnya tanpa bertanyapun akhirnya kita mengerti dan setuju maksudnya.
lepas dari benar atau tidaknya sebuah buku, buku menurut saya adalah termasuk cara yang baik sekali dalam menyampaikan sebuah pemikiran, pengalaman, karya ilmiah, dll. karena kita tidak berhadapan dengan orang langsung, kemungkinan kita akan sinis dan ‘panas’ akan lebih kecil. karena begitu kita sinis, kita akan lebih banyak melihat sisi negatifnya saja.
jika kebenaran sebuah buku adalah relatif, memang begitulah adanya dunia ini. tidak ada yang absolut. tetap kita yang memutuskan. tapi sebagian besar dari ilmu yang kita miliki adalah dari orang lain, atau minimal terinspirasi oleh orang lain dan alam. kalo ada cara mudah untuk ‘mendengar’ ekpresi orang lain (dalam hal ini, buku). kenapa harus cara yang susah yang mungkin prosesnya lebih lama tapi hasilnya sama saja.
seperti sebuah keyakinan hidup. memilih bagaimana cara hidup kita, apa kita harus mencoba semua jalan dulu, lalu baru memutuskan lewat mana? mungkin belum selesai semua jalan dicoba udah mati ketuaan. memilih istri/suami. apa kamu harus kawin kontrok dulu 100 kali baru memilih? keburu punya anak 200 anak nantinya. hehehe. menggunakan pemahaman dan ilmu yang sudah kita miliki. kita pilih buku yang sesuai menurut kita.
kalo kita sering mendengar kisah2 sukses tokoh2. kita akan menemukan bahwa kadang jalan mereka ada yang bertentangan satu sama lain. tokoh A bilang jangan tempuh jalan X, tokoh B bilang saya sukses dengan jalan X. bahkan orang terhebat pun tidak bisa memberi tahu apa yang terbaik untuk diri kita sendiri.
jadi ya itu, jangan terlalu patuh2 sama nasehat. hehehe. dihargai aja, di aplikasinya terserah.
kayak kita waktu kecil dulu, coba kalo semua anak nurut untuk jangan main permainan berbahaya dan kotor. mungkin jumlah orang nekad akan banyak berkurang. sedangkan kita perlu orang nekad.
kalo kita selalu ragu memilih hal2 yang relatif. menunggu hal yang absolut. mungkin selamanya kita tidak akan berani memilih.