Archive for March, 2007

baca ini sayang

Sunday, March 25th, 2007

jangan lihat mataku terlalu dalam

karna aku akan berpaling

jangan anggap tawa dan senyumku

cermin hati gembiraku…

itu yang sering kamu bilang dalam hatimu

kamu suka memainkan permainan ‘tak ada yang mengerti aku’…

karena telah begitu lama kamu merasa sepi…

dan entah bagaimana kamu merasa takut melepaskan sepi itu

telah akrab selama ini rasa sepi itu, kamu takut bila bukan rasa sepi, rasa apa yang akan kau dapatkan.

mungkin lebih baik merasakan sesuatu yang telah lama akrab saja, dari pada mencoba perasaan yang baru.

membuka hati untuk sebuah hubungan seperti menempuh jalan baru yang kamu tidak tahu ujungnya dimana.

karna itu kamu cenderung mengatakan bahwa berhubungan hanyalah ekspresi dari kebutuhan saja. bahwa ada rasa cinta yang dititipkan, itu akan dipikirkan lain kali saja.

jangan takut untuk marah, ekspresikan hatimu, aku tahu kamu sering merasa marah. tapi kamu sudah begitu terlatihnya untuk tidak mengekresikan marahmu.

itu sebabnya kamu butuh orang yang memeluk tanpa bertanya "ada apa"? karena kamu tetap ingin ‘tidak diketahui’. dan mengkomunikasikan perasaanmu adalah sebuah tantangan besar yang sering kali kamu tinggalkan.

aku juga msh punya tantangan dalam hal ekspresi…

karena itu aku tahu kamu, belajarlah terima itu…

musisi rasist

Thursday, March 22nd, 2007

emang ada? yup. ini musisi yang memilah2 dan mengkotak2kan musisi berdasarkan jenis kelamin! eh salah, maksudnya berdasarkan jenis musik yang dimainkan, dimana memainkannya, dan posisinya dalam komersialitas.

contoh yang paling gampang, musisi cafe dan musisi pangggung/indie/lagu sendiri. bagi kamu yang hidup amfibi, main di kafe membawakan lagu 40 atau jenis musik khusus dan juga main dipanggung membawakan lagu sendiri. kamu akan sedih melihat ekspresi teman2mu yang tergolong musisi rasist, karena kamu jadi berkurang respekmu ke org tersebut. bagaimana bisa? ya, karna seharusnya mereka berpikir merasakan sebelum bicara itu.

sayang sekali musisi indie (untuk menyingkat selebihnya di tulis indie, biarpun mungkin tidak membawakan lagu sendiri, ataupun sdh berada di major label) sering kali mendahului untuk mencela band top 40. sering kali mereka lebih sering melihat sisi negatifnya dulu dan membicarakannya. padahal sikap mereka otomatis mengungkapkan kelemahan mereka, musisi bertoleransi rendah.

kenapa? coba ingat2 dulu waktu pertama kali belajar musik… lagu apa yang kamu nyanyikan/mainkan pasti 90% adalah lagu yang pernah masuk chart top 40. dan saat musisi membuat lagu? musik2 apa yang menjadi acuan? sekali lagi 90% adalah yang pernah masuk chart top 40, mungkin tidak masuk chart top 40 indonesia tapi masuk chart 40 internasional atau negara tertentu, yang artinya musik itu disukai sejumlah besar org.

dan kalo musisi indie membuat lagu. apa yang mereka harapkan? pasti mereka mengharapkan lagunya disukai orang. dan saat lagunya masuk chart 40 tidak pernah ada yang minta lagunya dikeluarkan saja dari chart top 40. dan mereka senang jika lagunya dibawakan org lain.

mestinya bagi musisi yang rasist, mereka berlaku konsisten. jika memang membenci musisi top 40. bagaimana? jika lagu mereka masuk chart top 40 mereka minta lagunya dikeluarkan dari chart, dan jika musik mereka dimainkan band top 40 mereka minta lagu mereka jangan dimainkan lagi!

mereka musisi rasist tidak mendukung sesuatu yang justru mendukung mereka. ini sangat tidak tahu diri. dan ini menjadi alasan mengapa respekku berkurang pada musisi yang berpikiran seperti ini.

sikap rasist seringkali muncul dari perasaan lebih baik dari golongan tertentu. apa anda memang sudah lebih baik dari golongan lainnya dilihat dari semua segi?

buku

Monday, March 19th, 2007

siapa pun yang menulisnya, kalo bisa memberi manfaat kenapa tidak? kadang2 orang2 menjadi sinis, karena yang menulisnya bukanlah seorang professional, bahasanya slang, dan lain2. Bahkan kalo saja seorang pelacur menulis buku "lika liku seorang pelacur", kenapa tidak? kalo saya sih, misalnya liat judul buku itu di rak toko buku. akan langsung saya beli! bagaimana lagi cara untuk mengerti kehidupan mereka dengan cara mudah? tinggal duduk dirumah dan baca bukunya.

coba kalo kamu harus booking tempat dilokalisasi dulu trus ngajak ngobrol PSKnya berjam2. pasti bakal mahal dan tidak gampang membuat orang bercerita panjang lebar. itu adalah contoh ekstrimnya.

seorang teman pernah bilang ke aku. itu kan cuma buku, pandangan dari seorang penulis aja, belum tentu benar.

setuju, belum tentu benar. tapi coba gunakan analogi ini; misalkan jika sebuah buku diceritakan lewat mulut memakan waktu 24 jam nonstop (coba aja baca keras dan jelas sebuah buku tebal seakan2 kamu sedang bicara ke orang lain, itung sendiri waktunya). mungkin kita hanya betah mendengar 1 hari 4 jam nonstop aja (asumsi saja), jadi sebuah buku akan selesai setelah pembacaan hari ke 6. coba bayangkan jika itu benar2 dilakukan? apakah ada yang mau melakukannya dengan harga umum sebuah buku saja? belum lagi untuk berbicara seperti itu perlu persiapan dan pemikiran cara penyampaian ke pendengar?

belum lagi kalo rasa sinis kita muncul terus kita iseng memberi pertanyaan memojokkan. tentu tidak selesai 6 hari. bukan berarti ini mengesampingkan komunikasi 2 arah. cuma ada saatnya kita harus mendengarkan penjelasan orang lain sampai selesai sebelum akhirnya tanpa bertanyapun akhirnya kita mengerti dan setuju maksudnya.

lepas dari benar atau tidaknya sebuah buku, buku menurut saya adalah termasuk cara yang baik sekali dalam menyampaikan sebuah pemikiran, pengalaman, karya ilmiah, dll. karena kita tidak berhadapan dengan orang langsung, kemungkinan kita akan sinis dan ‘panas’ akan lebih kecil. karena begitu kita sinis, kita akan lebih banyak melihat sisi negatifnya saja.

jika kebenaran sebuah buku adalah relatif, memang begitulah adanya dunia ini. tidak ada yang absolut. tetap kita yang memutuskan. tapi sebagian besar dari ilmu yang kita miliki adalah dari orang lain, atau minimal terinspirasi oleh orang lain dan alam. kalo ada cara mudah untuk ‘mendengar’ ekpresi orang lain (dalam hal ini, buku). kenapa harus cara yang susah yang mungkin prosesnya lebih lama tapi hasilnya sama saja.

seperti sebuah keyakinan hidup. memilih bagaimana cara hidup kita, apa kita harus mencoba semua jalan dulu, lalu baru memutuskan lewat mana? mungkin belum selesai semua jalan dicoba udah mati ketuaan. memilih istri/suami. apa kamu harus kawin kontrok dulu 100 kali baru memilih? keburu punya anak 200 anak nantinya. hehehe. menggunakan pemahaman dan ilmu yang sudah kita miliki. kita pilih buku yang sesuai menurut kita.

kalo kita sering mendengar kisah2 sukses tokoh2. kita akan menemukan bahwa kadang jalan mereka ada yang bertentangan satu sama lain. tokoh A bilang jangan tempuh jalan X, tokoh B bilang saya sukses dengan jalan X. bahkan orang terhebat pun tidak bisa memberi tahu apa yang terbaik untuk diri kita sendiri.

jadi ya itu, jangan terlalu patuh2 sama nasehat. hehehe. dihargai aja, di aplikasinya terserah.

kayak kita waktu kecil dulu, coba kalo semua anak nurut untuk jangan main permainan berbahaya dan kotor. mungkin jumlah orang nekad akan banyak berkurang. sedangkan kita perlu orang nekad.

kalo kita selalu ragu memilih hal2 yang relatif. menunggu hal yang absolut. mungkin selamanya kita tidak akan berani memilih.

bertanya seperti anak2…

Tuesday, March 6th, 2007

ternyata lebih menguntungkan buatku. asal tahan keliatan gobloknya aja… hahaha
18 TILL I DIE!!!