Archive for April, 2007

studio > toko permen

Monday, April 30th, 2007

kenapa yah kalo studioku abis dipake cewek2 SMP yang suka datang pagi2 itu, mendadak bau studioku jadi kayak toko permen… hihihi…

butuh waktu

Wednesday, April 25th, 2007

butuh waktu…
butuh waktu untuk mengenalku, itu kata teman2 dekatku…
semua butuh waktu, cuma mungkin maksudnya teman2 bahwa butuh waktu lebih lama untuk mengenalku.
senang? tidak…
karena kadang aku ingin menghadirkan kesan pertama yang langsung ‘the real me’.
loncat dari kelompok pergaulan yang satu dengan yang lainnya selalu dianggap ‘jinak’. but iam just like pentium motto, ‘wild inside’. sometimes new friend want to fool me. but i can fool he/she better.
kadang aku bertanya2.
apa aku terlalu kompleks untuk dimengerti?
atau malah karna terlalu simple malah sulit untuk dimengerti???

teman berkarakter wartawan infotainment

Friday, April 20th, 2007

sedang di imejkan oleh ‘wartawan infotainment’. memang susah kalo seseorang menangkap sisi lemah dari kita dan dengan cara tertentu mengeksposnya sebagai suatu kelemahan yang jelas. dan berusaha menanamkan imej jelek kita yang dijelas2kan ke kepala teman2nya. suatu kesenangan yang kerdil sekali.

kisah pedagang dan nelayan

Thursday, April 19th, 2007

Diambil dari cerita yang banyak beredar….

_______________________________________________________________________

Suatu hari, seorang pedagang kaya datang
berlibur ke sebuah pulau yang masih
asri. Saat merasa bosan, dia
berjalan-jalan keluar dari villa tempat
dia menginap dan menyusuri tepian
pantai. Terlihat Di sebuah dinding
karang seseorang sedang memancing, dia
menghampiri sambil menyapa,

"Sedang memancing ya pak?", sambil
menoleh si nelayan menjawab,

"Benar tuan. Mancing satu-dua ikan untuk
makan malam keluarga kami".

Kenapa cuma satu-dua ikan pak? Kan
banyak ikan di laut ini, kalau bapak mau
sedikit lebih lama duduk disini,
tiga-empat ekor ikan pasti dapat kan?"

Kata si pedagang yang menilai si nelayan
sebagai orang malas. "Apa gunanya buat
saya ?" tanya si nelayan keheranan.

"Satu-dua ekor disantap keluarga bapak,
sisanya kan bisa dijual. Hasil penjualan
ikan bisa ditabung untuk membeli alat
pancing lagi sehingga hasil pancingan
bapak bisa lebih banyak lagi" katanya
menggurui.

"Apa gunanya bagi saya?" tanya si
nelayan semakin keheranan.

"Begini. Dengan uang tabungan yang lebih
banyak, bapak bisa membeli jala. Bila
hasil tangkapan ikan semakin banyak,
uang yang dihasilkan juga lebih banyak,
bapak bisa saja membeli sebuah perahu.
Dari satu perahu bisa bertambah menjadi
armada penangkapan ikan. Bapak bisa
memiliki perusahaan sendiri. Suatu hari
bapak akan menjadi seorang nelayan yang
kaya raya".

Nelayan yang sederhana itu memandang si
turis dengan penuh tanda tanya dan
kebingungan. Dia berpikir, laut dan
tanah telah menyediakan banyak makanan
bagi dia dan keluarganya, mengapa harus
dihabiskan untuk mendapatkan uang?
Mengapa dia ingin merampas kekayaan alam
sebanyak-banyaknya untuk dijual kembali.
Sungguh tidak masuk diakal ide yang
ditawarkan kepadanya.

Sebaliknya, merasa hebat dengan ide
bisnisnya si pedagang kembali
meyakinkan, "Kalau bapak mengikuti saran
saya, bapak akan menjadi kaya dan bisa
memiliki apa pun yang bapak mau".

"Apa yang bisa saya lakukan bila saya
memiliki banyak uang?" tanya si nelayan.

"Bapak bisa melakukan hal yg sama
seperti saya lakukan, setiap tahun bisa
berlibur, mengunjungi pulau seperti ini,
duduk di dinding pantai sambil memancing".

"Lho, bukankan hal itu yang setiap hari
saya lakukan tuan, kenapa harus menunggu
berlibur baru memancing?", kata si
nelayan menggeleng-gelengkan kepalanya
semakin heran.

Mendengar jawaban si nelayan, si
pedagang seperti tersentak kesadarannya
bahwa untuk menikmati memancing ternyata
tidak harus menunggu kaya raya.

Netter yang berbahagia,

Pepatah mengatakan, jangan mengukur baju
dengan badan orang lain.

Si pedagang mungkin benar melalui
analisa bisnisnya, dia merasa apa yang
dilakukan oleh si nelayan terlalu
sederhana, monoton dan tidak bermanfaat.
Mengeruk kekayaan alam demi mendapatkan
uang dan kekayaan sebanyak-banyaknya
adalah wajar baginya.

Sedangkan bagi si nelayan, dengan
pikiran yang sederhana, mampu menerima
apapun yang diberikan oleh alam dengan
puas dan ikhlas. Sehingga hidup dijalani
setiap hari dengan rasa syukur dan
berbahagia.

Memang ukuran "bahagia", masing-masing
orang pastilah tidak sama. Semua kembali
kepada keikhlasan dan cara kita
mensyukuri, apapun yang kita miliki saat
ini.

rumah untuk ku tinggali

Wednesday, April 4th, 2007

rumah ini, bukan seperti rumah2 yang dulu kutempati…
yang bila tak nyaman lagi akan kutinggalkan
rumah ini akan aku perjuangankan, untuk menjadi indah
dulu banyak rumah untuk kutinggali.
berharap orang2 lain yang tinggal dirumah itu akan membuat rumah itu menjadi indah
dan aku hanya menunggu, memberi saran sana sini, tapi dengan pengorbanan dan tindakan seperlunya. karena toh bila rumah tersebut hancur, aku akan pindah.
terus seperti itu…
aku akan pindah jika tak ada lagi yang bisa diharapkan.
selalu menyiapkan cadangan rumah yang lainnya.

sekarang gak ada lagi cadangan
cadangan hanyalah ancang2 untuk lari
mengambil hak2 rumah yang sedang ditempati
sudah cukup, aku takkan ambil ancang2 lagi
aku akan disini, memperjuangan lebih keras, karena aku hanya punya satu.

siapa bilang akan menjadi terbatas
karena aku masih bisa bertamu, untuk belajar dirumah yang lain
tapi tentu saja hanya bertamu, tidak untuk tinggal dirumah yang kutamui.
rumahku sekarang hanya satu