kisah pedagang dan nelayan

Diambil dari cerita yang banyak beredar….

_______________________________________________________________________

Suatu hari, seorang pedagang kaya datang
berlibur ke sebuah pulau yang masih
asri. Saat merasa bosan, dia
berjalan-jalan keluar dari villa tempat
dia menginap dan menyusuri tepian
pantai. Terlihat Di sebuah dinding
karang seseorang sedang memancing, dia
menghampiri sambil menyapa,

"Sedang memancing ya pak?", sambil
menoleh si nelayan menjawab,

"Benar tuan. Mancing satu-dua ikan untuk
makan malam keluarga kami".

Kenapa cuma satu-dua ikan pak? Kan
banyak ikan di laut ini, kalau bapak mau
sedikit lebih lama duduk disini,
tiga-empat ekor ikan pasti dapat kan?"

Kata si pedagang yang menilai si nelayan
sebagai orang malas. "Apa gunanya buat
saya ?" tanya si nelayan keheranan.

"Satu-dua ekor disantap keluarga bapak,
sisanya kan bisa dijual. Hasil penjualan
ikan bisa ditabung untuk membeli alat
pancing lagi sehingga hasil pancingan
bapak bisa lebih banyak lagi" katanya
menggurui.

"Apa gunanya bagi saya?" tanya si
nelayan semakin keheranan.

"Begini. Dengan uang tabungan yang lebih
banyak, bapak bisa membeli jala. Bila
hasil tangkapan ikan semakin banyak,
uang yang dihasilkan juga lebih banyak,
bapak bisa saja membeli sebuah perahu.
Dari satu perahu bisa bertambah menjadi
armada penangkapan ikan. Bapak bisa
memiliki perusahaan sendiri. Suatu hari
bapak akan menjadi seorang nelayan yang
kaya raya".

Nelayan yang sederhana itu memandang si
turis dengan penuh tanda tanya dan
kebingungan. Dia berpikir, laut dan
tanah telah menyediakan banyak makanan
bagi dia dan keluarganya, mengapa harus
dihabiskan untuk mendapatkan uang?
Mengapa dia ingin merampas kekayaan alam
sebanyak-banyaknya untuk dijual kembali.
Sungguh tidak masuk diakal ide yang
ditawarkan kepadanya.

Sebaliknya, merasa hebat dengan ide
bisnisnya si pedagang kembali
meyakinkan, "Kalau bapak mengikuti saran
saya, bapak akan menjadi kaya dan bisa
memiliki apa pun yang bapak mau".

"Apa yang bisa saya lakukan bila saya
memiliki banyak uang?" tanya si nelayan.

"Bapak bisa melakukan hal yg sama
seperti saya lakukan, setiap tahun bisa
berlibur, mengunjungi pulau seperti ini,
duduk di dinding pantai sambil memancing".

"Lho, bukankan hal itu yang setiap hari
saya lakukan tuan, kenapa harus menunggu
berlibur baru memancing?", kata si
nelayan menggeleng-gelengkan kepalanya
semakin heran.

Mendengar jawaban si nelayan, si
pedagang seperti tersentak kesadarannya
bahwa untuk menikmati memancing ternyata
tidak harus menunggu kaya raya.

Netter yang berbahagia,

Pepatah mengatakan, jangan mengukur baju
dengan badan orang lain.

Si pedagang mungkin benar melalui
analisa bisnisnya, dia merasa apa yang
dilakukan oleh si nelayan terlalu
sederhana, monoton dan tidak bermanfaat.
Mengeruk kekayaan alam demi mendapatkan
uang dan kekayaan sebanyak-banyaknya
adalah wajar baginya.

Sedangkan bagi si nelayan, dengan
pikiran yang sederhana, mampu menerima
apapun yang diberikan oleh alam dengan
puas dan ikhlas. Sehingga hidup dijalani
setiap hari dengan rasa syukur dan
berbahagia.

Memang ukuran "bahagia", masing-masing
orang pastilah tidak sama. Semua kembali
kepada keikhlasan dan cara kita
mensyukuri, apapun yang kita miliki saat
ini.

Leave a Reply