enak gila!

June 6th, 2007 by resasmail

coba kalo mengumpulkan harta itu semudah menumpuk lemak diperut, dan kehilangan harta sesusah menghilangkan lemak di perut. ENAK YA! tambah endut nih….

muncul begitu saja

May 29th, 2007 by resasmail

suatu hari saya bermimpi…
mimpi itu seakan bermakna, dan saya pun terbangun karna mimpi itu.
1 tahunpun kucari arti mimpi itu. mimpi itu mengganggu, seakan menunggu untuk diterjemahkan.
1 tahun berlalu saya baru menemukan jawabannya…
dan sekarang saya merasakan dorongan yang sama kuatnya dengan keinginan untuk mencari arti mimpi itu.
yaitu, minta maaf. pada 2 orang (pasti jauh lebih banyak yah, cuma yang urgent kayaknya 2 orang itu).
yang anehnya, dari 2 orang itu hanya 1 orang yang saya tahu pasti kesalahan besarku. satu orangnya lagi, saya tidak tahu, kalo kesalahan2 kecil pasti ada, cuma bakal aneh rasanya kalo aku minta maaf, dan akhirnya diapun sama bingungnya.
"salah apa kamu", mungkin itu jawabnya.
tapi, aku, cuma melaksanakan dorongan, keinginan dalam hati, yang asalnya entah dari mana. actually, i know where it come from.

intermezzo

May 23rd, 2007 by resasmail

Kemiskinan adalah sebuah produk. Sebagian orang bilang bahwa negara yang kaya sumber minyak seolah dapat kutukan. Indonesia contohnya. Provinsi yang kaya minyak justru memiliki penduduk miskin yang tinggi. Dengan eksploitasi 1,1 juta barel per hari, Riau memasok 70% minyak Indonesia. Namun dalam daftar kemiskinan, Riau merupakan propinsi ke-13 termiskin. Sementara NAD dengan kekayaan gas dan minyak, menduduki peringkat ke-4. Propinsi Papua dan Kaltim juga masuk dalam daftar daerah miskin. Kemana larinya sumber rezeki yang meruah-ruah itu.

Tentu itu bukan kutukan. Ini merupakan produk dari suatu kebijakan. Entah apa yang ada dalam benak para penandatangan kesepakatan ekspolitasi oleh pihak asing. Kini lihat kesejahteraan perusahaan asing yang mengeksploitasi sumber-sumber minyak itu. Jangankan para pemiliknya, pegawainya saja hidup di atas kecukupan. Dalam waktu satu tahun bekerja, rumah yang nyaman pun bisa dimiliki. Lantas perhatikan pula di haji plus, sebagian besar pasangan muda yang pergi haji merupakan karyawan perusahaan minyak.

Mereka yang bekerja jelas tak salah. Jika minyak itu untuk kesejahteraan bangsa, bukankah kondisi fakir miskin tak melarat-larat amat. Yang tengah kita gugat, kebijakan macam apa yang dihasilkan. Perhatikan saham-saham pemerintah di berbagai perusahaan minyak asing. Karena minoritas, pemerintah Indonesia kelabakan saat PIM (Pupuk Iskandar Muda) dan Asian Fertilizer megap-megap tak dapat pasokan gas. Kabarnya dua perusahaan di Lhokseumawe NAD ini akan dilego pemerintah. Tahukah siapa calon pembeli kuatnya? Ternyata perusahaan asing yang harusnya bertanggung jawab atas pasokan gas pada dua perusahaan itu.

ngomong di telfon

May 20th, 2007 by resasmail

kadang2 bosan…
pengennya to the point aja…

stop pemujaan terhadap orang tua! mereka manusia juga!

May 18th, 2007 by resasmail

pak buk, belum sukses nih…
andai aku bisa bilang itu tanpa beban…
bukan muka kecewa yang ingin aku liat.
akupun sama kecewanya
kenapa tidak bilang "nanti akan tiba saatnya nak"
dukungan lebih diperlukan
daripada menasehati, alih2 ingin mengatakan secara tidak langsung "benerkan bapak ibu bilang"
mereka manusia juga…
coba mereka menurunkan gengsinya sebagai orang tua…
mau untuk kembali belajar. apa yang tertinggal dimasa muda.
buku2 yang aku kagumi, yang akupun ingin mereka baca.
sampai saat ini cuma tergeletak begitu saja
"sibuk"
padahal itu investasi, untuk perubahan dimasa depan.
kalo sekedar sibuk.
bisa2 cuma terjebak dikesibukan yang sama bertahun2…
jasa mereka banyak sekali…
tapi jangan puja mereka.
pujalah dirimu sendiri dan penciptamu.
pak bu. terima kasih.
cukup sampai disini aku memandang dunia dengan kacamata kalian
aku sudah punya kacamata sendiri…

berani ekspresi

May 8th, 2007 by resasmail

siapapun yang pasang iklan itu, siapapun yang mengusulkan itu dipasang, orang itu pasti BERANI EKSPRESI. lebih maju dari pada saya yang cuma bisa berpikir dan menyimpan untuk diri sendiri… karena saat curhat yang sering dikatakan padaku adalah "ah itu perasaanmu saja". iklan itu bertuliskan "TIADA CELA BERBAHASA INDONESIA". terpasang dibundaran aloha sebelah kiri jalan dari arah sidoarjo surabaya ke arah utara. siapapun yang bertanggung jawab, U MY HERO!

studio > toko permen

April 30th, 2007 by resasmail

kenapa yah kalo studioku abis dipake cewek2 SMP yang suka datang pagi2 itu, mendadak bau studioku jadi kayak toko permen… hihihi…

butuh waktu

April 25th, 2007 by resasmail

butuh waktu…
butuh waktu untuk mengenalku, itu kata teman2 dekatku…
semua butuh waktu, cuma mungkin maksudnya teman2 bahwa butuh waktu lebih lama untuk mengenalku.
senang? tidak…
karena kadang aku ingin menghadirkan kesan pertama yang langsung ‘the real me’.
loncat dari kelompok pergaulan yang satu dengan yang lainnya selalu dianggap ‘jinak’. but iam just like pentium motto, ‘wild inside’. sometimes new friend want to fool me. but i can fool he/she better.
kadang aku bertanya2.
apa aku terlalu kompleks untuk dimengerti?
atau malah karna terlalu simple malah sulit untuk dimengerti???

teman berkarakter wartawan infotainment

April 20th, 2007 by resasmail

sedang di imejkan oleh ‘wartawan infotainment’. memang susah kalo seseorang menangkap sisi lemah dari kita dan dengan cara tertentu mengeksposnya sebagai suatu kelemahan yang jelas. dan berusaha menanamkan imej jelek kita yang dijelas2kan ke kepala teman2nya. suatu kesenangan yang kerdil sekali.

kisah pedagang dan nelayan

April 19th, 2007 by resasmail

Diambil dari cerita yang banyak beredar….

_______________________________________________________________________

Suatu hari, seorang pedagang kaya datang
berlibur ke sebuah pulau yang masih
asri. Saat merasa bosan, dia
berjalan-jalan keluar dari villa tempat
dia menginap dan menyusuri tepian
pantai. Terlihat Di sebuah dinding
karang seseorang sedang memancing, dia
menghampiri sambil menyapa,

"Sedang memancing ya pak?", sambil
menoleh si nelayan menjawab,

"Benar tuan. Mancing satu-dua ikan untuk
makan malam keluarga kami".

Kenapa cuma satu-dua ikan pak? Kan
banyak ikan di laut ini, kalau bapak mau
sedikit lebih lama duduk disini,
tiga-empat ekor ikan pasti dapat kan?"

Kata si pedagang yang menilai si nelayan
sebagai orang malas. "Apa gunanya buat
saya ?" tanya si nelayan keheranan.

"Satu-dua ekor disantap keluarga bapak,
sisanya kan bisa dijual. Hasil penjualan
ikan bisa ditabung untuk membeli alat
pancing lagi sehingga hasil pancingan
bapak bisa lebih banyak lagi" katanya
menggurui.

"Apa gunanya bagi saya?" tanya si
nelayan semakin keheranan.

"Begini. Dengan uang tabungan yang lebih
banyak, bapak bisa membeli jala. Bila
hasil tangkapan ikan semakin banyak,
uang yang dihasilkan juga lebih banyak,
bapak bisa saja membeli sebuah perahu.
Dari satu perahu bisa bertambah menjadi
armada penangkapan ikan. Bapak bisa
memiliki perusahaan sendiri. Suatu hari
bapak akan menjadi seorang nelayan yang
kaya raya".

Nelayan yang sederhana itu memandang si
turis dengan penuh tanda tanya dan
kebingungan. Dia berpikir, laut dan
tanah telah menyediakan banyak makanan
bagi dia dan keluarganya, mengapa harus
dihabiskan untuk mendapatkan uang?
Mengapa dia ingin merampas kekayaan alam
sebanyak-banyaknya untuk dijual kembali.
Sungguh tidak masuk diakal ide yang
ditawarkan kepadanya.

Sebaliknya, merasa hebat dengan ide
bisnisnya si pedagang kembali
meyakinkan, "Kalau bapak mengikuti saran
saya, bapak akan menjadi kaya dan bisa
memiliki apa pun yang bapak mau".

"Apa yang bisa saya lakukan bila saya
memiliki banyak uang?" tanya si nelayan.

"Bapak bisa melakukan hal yg sama
seperti saya lakukan, setiap tahun bisa
berlibur, mengunjungi pulau seperti ini,
duduk di dinding pantai sambil memancing".

"Lho, bukankan hal itu yang setiap hari
saya lakukan tuan, kenapa harus menunggu
berlibur baru memancing?", kata si
nelayan menggeleng-gelengkan kepalanya
semakin heran.

Mendengar jawaban si nelayan, si
pedagang seperti tersentak kesadarannya
bahwa untuk menikmati memancing ternyata
tidak harus menunggu kaya raya.

Netter yang berbahagia,

Pepatah mengatakan, jangan mengukur baju
dengan badan orang lain.

Si pedagang mungkin benar melalui
analisa bisnisnya, dia merasa apa yang
dilakukan oleh si nelayan terlalu
sederhana, monoton dan tidak bermanfaat.
Mengeruk kekayaan alam demi mendapatkan
uang dan kekayaan sebanyak-banyaknya
adalah wajar baginya.

Sedangkan bagi si nelayan, dengan
pikiran yang sederhana, mampu menerima
apapun yang diberikan oleh alam dengan
puas dan ikhlas. Sehingga hidup dijalani
setiap hari dengan rasa syukur dan
berbahagia.

Memang ukuran "bahagia", masing-masing
orang pastilah tidak sama. Semua kembali
kepada keikhlasan dan cara kita
mensyukuri, apapun yang kita miliki saat
ini.